Puluhan Siswa SD Keracunan MBG, SPPG Pondok Kelapa Disetop
Salah satu korban keracunan MBG--disway
“Jeda waktu yang terlalu lama dapat menurunkan kualitas makanan dan memicu gangguan kesehatan,” kata Nanik.
Dalam sistem distribusi massal, kontrol waktu dan suhu menjadi faktor krusial untuk mencegah kontaminasi.
Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, menyebut dugaan awal mengarah pada salah satu menu, yakni spageti.
Menu yang disajikan saat kejadian meliputi spageti bolognese, bola-bola daging, scramble egg tofu, sayuran campur, dan buah stroberi.
“Sebagian besar korban diduga terdampak dari spageti, namun kami masih menunggu hasil laboratorium resmi,” ujarnya.
Pengawasan Ketat
Insiden ini memicu reaksi keras dari DPRD DKI Jakarta. Sekretaris Komisi E, Justin Adrian Untayana, menilai pengawasan terhadap program MBG masih lemah.
Ia mendesak pemerintah daerah untuk terlibat aktif melakukan pengawasan, meski program tersebut merupakan inisiatif pusat.
“Pengawasan bahan makanan dan tata kelola dapur harus diperketat. Jangan sampai sekolah menjadi tempat yang membahayakan siswa,” tegasnya.
Ia juga mendorong audit rutin oleh Dinas Kesehatan, Dinas Pendidikan, dan Dinas Ketahanan Pangan.
BGN Tanggung Biaya Pengobatan
Sebagai bentuk tanggung jawab, BGN memastikan akan menanggung seluruh biaya pengobatan siswa, terutama yang tidak ditanggung BPJS Kesehatan.
BGN juga menyampaikan permohonan maaf kepada para korban dan keluarga atas insiden tersebut.
Evaluasi Total Program MBG
Meski kasus ini mencoreng pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis, Pemprov DKI Jakarta menyatakan tetap mendukung program tersebut dengan catatan evaluasi menyeluruh.
Perbaikan akan difokuskan pada:
- Standarisasi dapur
- Pengawasan distribusi makanan
- Kontrol kualitas bahan pangan
- Sistem keamanan pangan
Kasus ini menjadi pengingat bahwa program pangan skala besar membutuhkan pengawasan ketat agar tidak berujung pada risiko kesehatan, terutama bagi anak-anak sekolah.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: