Puluhan Ribu Pelajar Keracunan MBG Sejak April 2025, Pakar UGM: Hampir Setiap Bulan Ada!

Puluhan Ribu Pelajar Keracunan MBG Sejak April 2025, Pakar UGM: Hampir Setiap Bulan Ada!

Ahli UGM sebut target 3.000 porsi SPPG melebihi kapasitas dan picu risiko keamanan pangan.--

radarpena.co.id - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas pemerintah untuk meningkatkan kesehatan siswa di Tanah Air, kini tengah mendapat sorotan tajam. Persoalan keamanan pangan yang mengiringi program ini justru memicu kekhawatiran besar di tengah masyarakat.

Berdasarkan data Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI), tercatat sedikitnya 33.626 pelajar mengalami keracunan yang diduga berasal dari konsumsi MBG sejak awal 2025 hingga April 2026. Angka yang fantastis ini menimbulkan tanda tanya besar mengenai kesiapan implementasi program di lapangan.

Target Produksi Dinilai Terlalu Dipaksakan

Guru Besar Teknologi Pangan dan Hasil Pertanian FTP UGM, Prof. Dr. Ir. Sri Raharjo, M.Sc., menilai bahwa insiden keracunan yang hampir terjadi setiap bulan ini menunjukkan adanya masalah sistemik. Menurutnya, Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) tampak belum siap memikul beban target produksi yang sangat masif.

“Hanya mungkin satu dua bulan saja yang tidak ada laporan. Selebihnya hampir setiap bulan ada, dengan jumlah kasus yang fluktuatif,” ujar Prof. Sri Raharjo, Jumat, 24 April 2026, dikutip dari website UGM.

Beliau menyoroti kebijakan yang menetapkan angka produksi sekitar 3.000 porsi per SPPG per hari. Baginya, angka tersebut sudah di luar kapasitas wajar sebuah lembaga yang baru saja terbentuk.

Pemerintah memang menargetkan pelayanan untuk sekitar 80 juta siswa, yang secara matematis membutuhkan hampir 30 ribu SPPG di seluruh penjuru daerah.

Prof. Sri berpendapat bahwa pemerintah seharusnya menggunakan pendekatan bertahap. SPPG sebaiknya memulai dari kapasitas kecil, misalnya 500 porsi per hari, untuk mengevaluasi kemampuan manajemen sebelum melonjak drastis. Namun, langkah ini tidak terantisipasi karena program terkesan berjalan terburu-buru.

Risiko Teknis dalam Pengolahan Masakan

Dari kacamata ahli, risiko kontaminasi meningkat tajam saat mengolah makanan dalam skala besar. Prof. Sri mencontohkan menu ayam sebagai sumber protein hewani yang sering digunakan. Untuk memenuhi target ribuan porsi, petugas harus memasak ratusan ekor ayam dalam waktu singkat.

Ada perbedaan risiko antara ayam yang dimasak langsung dari kondisi mentah dengan yang sudah melalui proses manajemen produksi yang benar.

“Relatif sulit untuk memastikan setiap bahan dari ratusan potong dalam satu wajan matang semua. Berarti ada risiko sebagian dari potongan tadi mungkin tidak mampu mematikan katakan kuman atau bakteri penyebab penyakit,” jelasnya.

Masalah teknis ini diperparah dengan jeda waktu antara proses memasak dan konsumsi yang mencapai hitungan jam. Belum lagi faktor kelelahan tenaga kerja yang harus memulai produksi sejak dini hari setiap hari, yang berpotensi menurunkan ketelitian dalam menjaga kebersihan makanan.

Langkah Reaktif dan Solusi Prioritas

Meskipun Badan Gizi Nasional (BGN) telah melakukan penertiban dengan menutup SPPG yang bermasalah, langkah tersebut dinilai hanya bersifat reaktif. Akar masalah tetap pada persiapan yang dipaksa berjalan cepat demi mengejar target luas.

Prof. Sri Raharjo menyarankan agar pemerintah lebih realistis dengan memprioritaskan kelompok yang paling membutuhkan, seperti anak-anak yang mengalami stunting (sekitar 20%).

“Kalau difokuskan pada kelompok yang benar-benar membutuhkan, jumlahnya jauh lebih kecil dan secara keamanan pangannya lebih bisa dikelola,” pungkasnya.

Dengan fokus pada target yang lebih kecil, manajemen risiko dan keamanan pangan tentu akan lebih terkendali, sehingga tujuan utama meningkatkan gizi pelajar tidak justru membahayakan kesehatan mereka.

 

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber:

Berita Terkait