BGN Evaluasi 11 SPPG di Kota Gorontalo: Masalah IPAL dan Kualitas Makanan Jadi Pemicu Suspen
Ratusan murid di Jakarta Timur alami keracunan setelah makan menu MBG.--
radarpena.co.id - Badan Gizi Nasional (BGN) saat ini tengah bergerak cepat melakukan evaluasi terhadap 11 unit Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Kota Gorontalo. Belasan unit tersebut merupakan penyedia utama untuk Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di wilayah Gorontalo.
Sayangnya, untuk sementara waktu, unit-unit ini belum bisa melayani masyarakat karena statusnya sedang dalam pembekuan sementara atau suspen.
Koordinator Wilayah MBG Kota Gorontalo, Indah Febriani Ali, menjelaskan bahwa keputusan ini diambil demi menjaga standar pelayanan bagi masyarakat. Ia mengungkapkan ada alasan teknis dan kualitas yang melandasi langkah tegas tersebut.
"Penutupan sementara 11 unit SPPG itu disebabkan oleh masalah teknis instalasi dan temuan kualitas makanan," kata Indah di Gorontalo, Selasa, 5 Mei 2026.
Kendala IPAL dan Progres Perbaikan
Dari total 11 unit yang terkena suspen, 10 unit di antaranya ternyata tersandung masalah Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL). Hingga saat ini, proses perbaikan instalasi tersebut belum rampung sepenuhnya, sehingga BGN belum bisa mencabut status pembekuan mereka.
Namun, ada kabar baik bagi warga Kota Gorontalo. Tim di lapangan terus menggenjot perbaikan agar layanan pemenuhan gizi ini bisa segera aktif kembali.
"Jika dilihat dari progres yang berjalan, diproyeksikan pada pekan depan akan ada tiga unit yang siap beroperasi kembali," lanjut Indah.
Temuan Makanan Berjamur di Bulan Ramadhan
Selain urusan teknis pembuangan limbah, tim evaluasi juga menemukan masalah serius pada salah satu SPPG terkait standar kualitas makanan. Kasus ini mencuat setelah muncul keluhan langsung dari pihak sekolah pada awal hingga akhir bulan Ramadhan tahun 2026.
Temuan makanan berjamur menjadi sorotan utama dalam evaluasi ini. Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa insiden memprihatinkan tersebut bersumber dari lemahnya pengawasan internal di tingkat unit penyedia.
"Temuan-temuan tersebut dipicu oleh kelalaian dalam manajemen kontrol kualitas di tingkat SPPG serta koordinasi pemesanan oleh pihak yayasan," ungkap Indah menjelaskan hasil investigasinya.
Langkah Tegas dan Kelanjutan Program
Pihak koordinator wilayah telah merangkum seluruh temuan di daerah dan melaporkannya secara menyeluruh ke pemerintah pusat. Meskipun rekomendasi sanksi berasal dari daerah, namun keputusan akhir mengenai hukuman bagi pihak yang terlibat merupakan wewenang penuh dari BGN pusat.
Agar Program Makan Bergizi Gratis tidak berhenti total, pemerintah telah mengaktifkan unit baru sebagai solusi jangka pendek.
"Saat ini ada tiga unit SPPG di Kota Gorontalo yang baru dan beroperasi untuk memastikan program pemenuhan gizi tetap berjalan," pungkas Indah Febriani Ali.
Langkah evaluasi ini diharapkan dapat meningkatkan standar keamanan pangan dan profesionalisme pengelola SPPG ke depannya, sehingga distribusi nutrisi untuk anak-anak di Gorontalo benar-benar terjamin kualitasnya.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: antara