Fakta-Fakta di Balik 9 Balita Keracunan MBG Tasikmalaya

Fakta-Fakta di Balik 9 Balita Keracunan MBG Tasikmalaya

Ilustrasi keracunan MBG--

TASIKMALAYA, RADARPENA.CO.ID - Isu sembilan balita yang diduga keracunan usai menyantap menu program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, akhirnya mendapat klarifikasi resmi dari Badan Gizi Nasional (BGN).

Pihak BGN dengan tegas membantah adanya keracunan massal akibat makanan program pemerintah tersebut.

Menurut Ketua Tim Investigasi BGN, Karimah Muhammad, hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa balita yang mengalami mual dan muntah mengonsumsi makanan di luar batas waktu aman konsumsi.

BACA JUGA:Program MBG Kembali Telan Korban, Siswa di SMK Widya Karya dan SMP Karya Prestasi Mandiri Padalarang Keracunan

“Menu MBG tersebut dimakan antara pukul 16.00 sampai 17.00 WIB, padahal didistribusikan dari dapur SPPG sekitar pukul 10.00–11.00 WIB,” jelas Karimah, Kamis (16/10/2025).

“Artinya, makanan dikonsumsi lebih dari lima jam setelah dibagikan, jauh melewati waktu ‘best before’ yang sudah diinformasikan sebelumnya,” tambahnya.

Kronologi Kejadian di Tasikmalaya

Kasus ini terjadi di Desa Cibeber, Kecamatan Manonjaya, Kabupaten Tasikmalaya. Berikut urutan peristiwanya:

  • Pukul 10.00–11.00 WIB: Dapur Sentra Pelayanan Pemberian Gizi (SPPG) menyalurkan makanan MBG berisi menu ayam suwir bumbu kecap dan susu UHT.
  • Pukul 16.00–17.00 WIB: Sembilan balita baru mengonsumsi jatah MBG mereka, sehingga jeda waktunya lebih dari lima jam.
  • Pukul 18.30–19.30 WIB: Anak-anak mulai merasa mual dan muntah, lalu dibawa ke bidan desa. Setelah diberi obat antimuntah, seluruh balita dinyatakan pulih dan diperbolehkan pulang.

BACA JUGA:Terungkap! Dana Rp100 Triliun Program MBG yang Dikembalikan BGN Ternyata Belum Masuk APBN 2025

Karimah menegaskan, ini bukan kasus keracunan makanan, melainkan akibat makanan disimpan terlalu lama pada suhu ruang.

“Tidak ada laporan serupa dari posyandu atau sekolah lain yang menerima menu MBG di hari yang sama. Faktor waktulah yang menjadi penyebab utama,” tegasnya.

Menanggapi insiden tersebut, BGN menyebut peristiwa ini menjadi pelajaran penting dalam manajemen distribusi pangan bergizi.

Selain memastikan higienitas dapur SPPG, pihaknya kini memperketat edukasi kepada orang tua dan kader Posyandu agar makanan MBG segera dikonsumsi setelah diterima.

BACA JUGA:Menu MBG SDN Mampang 1 Depok Cuma Isi Kentang Rebus dan Pangsit Goreng, SPPG Mampang: Sesuai Standar Gizi BGN

Dinas Kesehatan setempat juga telah mengambil sampel makanan untuk diuji laboratorium, memastikan tidak ada kontaminasi sejak awal.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber:

Berita Terkait