Prioritas atau Gaya Hidup? Menabung Bijak di Tengah Ketidakpastian Ekonomi

Prioritas atau Gaya Hidup? Menabung Bijak di Tengah Ketidakpastian Ekonomi

Melalui pemahaman terhadap pola pengeluaran masyarakat, UOB berusaha memberikan edukasi yang tepat mengenai pentingnya tabungan dan investasi jangka panjang.--Radarpena.co.id

Head of Deposit and Wealth Management UOB Indonesia Vera Margaret menyebutkan bahwa 49% masyarakat merasa ragu terhadap kemampuan mereka untuk menabung. Banyak yang ingin menabung, tetapi ada ketidakpastian apakah mereka bisa melakukannya secara konsisten

Selain itu, 40% responden menyatakan kekhawatiran bahwa mereka tidak akan dapat menyisihkan uang untuk investasi, sementara 35% lainnya merasa kesulitan dalam memenuhi kebutuhan dasar bagi diri sendiri maupun keluarga.

Survei ini juga mengungkapkan lima kategori pengeluaran utama di kalangan masyarakat Indonesia. Prioritas utama adalah pendidikan, disusul oleh kebutuhan rumah tangga seperti tagihan listrik, air, dan telepon.

Selain itu konsumsi makanan melalui layanan antar online pun menjadi pengeluaran yang signifikan, seiring dengan meningkatnya popularitas layanan tersebut di era digital.

Berdasarkan survei ini, 27% responden mengaku telah meningkatkan pengeluaran mereka dibandingkan tahun sebelumnya, sementara 30% lainnya berupaya mengurangi pengeluaran mereka, dan sisanya memilih untuk mempertahankan pengeluaran pada tingkat yang sama.

Meski ada kekhawatiran finansial yang mendalam, survei ini juga menunjukkan bahwa keinginan untuk menabung tetap tinggi di kalangan masyarakat Indonesia, terutama generasi Gen Z. Sebanyak 36% responden menyatakan minat untuk menambah jumlah uang yang ditabung, dengan kelompok Gen Z menjadi yang paling antusias dalam hal menabung.

BACA JUGA:Donald Trump Terpilih Jadi Pilpres Amerika 2024, Bank Indonesia: Khawatir Pasar Keuangan Global Tak Stabil

Fakta ini mencerminkan optimisme dan kesadaran finansial yang semakin meningkat di kalangan generasi muda Indonesia, yang tampaknya semakin sadar akan pentingnya menjaga stabilitas keuangan di masa depan.

Berdasarkan survei, sebanyak 91% responden di Indonesia mulai menyisihkan sebagian pendapatan mereka untuk dana darurat, meskipun hanya 20% yang memiliki dana darurat cukup untuk bertahan selama enam bulan ke depan.

Vera menjelaskan bahwa idealnya, dana darurat setidaknya mencakup enam bulan pengeluaran bulanan untuk menghadapi situasi tak terduga seperti kehilangan pekerjaan atau masalah medis. Namun, kenyataannya, sebagian besar masyarakat hanya memiliki dana darurat untuk satu atau dua bulan.

Untuk membantu masyarakat dalam mengelola keuangan, Vera membagikan panduan alokasi pengeluaran ideal. Sebanyak 70-85% pendapatan sebaiknya dialokasikan untuk kebutuhan pokok seperti tagihan dan cicilan minimum. Selain itu, 10-20% pendapatan dapat digunakan untuk tabungan atau investasi, sedangkan 5-10% lainnya bisa dialokasikan untuk kepentingan pribadi.

Ketika berinvestasi maupun menabung, Vera menyebut UOB memiliki metode Risk-First Approach yang akan membantu mengenali tahap perjalanan keuangan tiap individu dengan memahami tingkat toleransi risiko saat memulai dan di sepanjang perjalanan pengelolaan keuangannya.

Dalam pendekatan Risk-First, ada tiga pilar atau langkah dalam perencanaan keuangan. Langkah pertama adalah melindungi (protect) diri dan orang yang dicintai dari risiko kejadian hidup yang tidak terduga dengan menyediakan dana darurat dan perlindungan asuransi.

Pada langkah kedua, membangun (build), portofolio awal dengan produk keuangan yang tidak mudah terpengaruh kendali pasar. Kemudian, langkah terakhir dalam perencanaan keuangan adalah meningkatkan (enhance) pertumbuhan portofolio investasi dengan menangkap peluang pasar.

BACA JUGA:Bekerja di Bank: Peluang dan Tantangan Meniti Karier di Sektor Keuangan

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber:

Berita Terkait