Iran Siapkan Syarat Gencatan Senjata, Tak Akan Tunduk pada Ultimatum AS!
Iran resmi rumuskan tanggapan gencatan senjata dengan AS.--
radarpena.co.id - Pemerintah Iran akhirnya merumuskan posisi dan tuntutan resmi mereka terkait usulan gencatan senjata yang diajukan melalui perantara internasional. Pada Senin, 6 April 2026, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran menegaskan bahwa proses negosiasi ini tidak boleh disertai dengan ancaman atau tekanan militer.
Teheran Tolak Tuntutan "Berlebihan" dari Amerika Serikat
Juru Bicara Esmaeil Baghaei menjelaskan bahwa pihaknya telah menyusun serangkaian persyaratan yang berakar pada kepentingan nasional. Melalui saluran perantara, Iran juga menyampaikan penolakan terhadap rencana 15 poin yang sebelumnya diajukan Amerika Serikat karena dianggap tidak masuk akal.
Baghaei menekankan bahwa ketegasan Iran dalam menyampaikan poin-poin ini merupakan bentuk harga diri bangsa, bukan sebuah kelemahan.
"Iran tidak ragu untuk secara jelas menyatakan apa yang dianggapnya sebagai tuntutan yang sah dan hal itu tidak boleh diartikan sebagai tanda kompromi, tetapi lebih sebagai cerminan kepercayaan diri dalam mempertahankan posisinya," kata Baghaei dalam konferensi pers tersebut.
Beliau menambahkan bahwa detail tanggapan tersebut sudah siap dan akan diumumkan secara resmi pada waktu yang tepat.
Selat Hormuz: Kartu As Iran yang Belum Akan Dilepas
Salah satu poin paling krusial dalam ketegangan ini adalah penutupan Selat Hormuz. Jalur air ini merupakan urat nadi ekonomi global yang mengalirkan sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam dunia. Iran menutup jalur ini sebagai respons atas serangan AS dan Israel pada Februari lalu.
Sejauh ini, Iran tampaknya belum bersedia membuka kembali jalur vital tersebut dalam waktu dekat. Melansir laporan Reuters, seorang pejabat senior Iran menyatakan bahwa pembukaan selat tidak akan menjadi bagian dari kesepakatan gencatan senjata sementara.
Selain itu, pihak Teheran menolak keras adanya tenggat waktu atau deadline dalam mencapai kesepakatan. Menurut pejabat tersebut, kendala utama saat ini adalah Washington yang belum siap untuk melakukan gencatan senjata secara permanen.
Mediasi Pakistan dan Upaya Damai Intensif
Di balik layar, Pakistan berperan aktif sebagai mediator untuk meredam konflik. Rencana damai yang dimediasi oleh Pakistan mengusulkan gencatan senjata segera, yang nantinya akan diikuti oleh negosiasi perdamaian lebih luas dalam kurun waktu 15 hingga 20 hari.
Upaya ini melibatkan komunikasi tingkat tinggi yang sangat intensif. Sumber yang mengetahui proposal tersebut mengungkapkan bahwa Kepala Angkatan Darat Pakistan, Marsekal Lapangan Asim Munir, terus menjalin kontak maraton.
Marsekal Lapangan Asim Munir melakukan kontak "sepanjang malam" dengan Wakil Presiden AS JD Vance, utusan khusus Steve Witkoff, dan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi, kata sumber tersebut.
Meski jalur diplomasi mulai terbuka, kondisi di lapangan masih sangat dinamis. Publik dunia kini menanti apakah usulan mediasi ini mampu melunakkan ketegangan dan membuka kembali jalur energi global yang saat ini tengah tercekik.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: al arabiya