Iran Sebut Blokade Angkatan Laut AS Pasti Gagal!

Iran Sebut Blokade Angkatan Laut AS Pasti Gagal!

Presiden Iran Masoud Pezeshkian tegaskan blokade laut AS pasti gagal.--

radarpena.co.id - Ketegangan di Teluk Arab semakin memanas setelah Iran memberikan peringatan keras kepada Amerika Serikat pada Kamis, 30 April 2026. Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, menegaskan bahwa upaya blokade angkatan laut yang dilakukan AS terhadap pelabuhan mereka pasti akan menemui kegagalan.

Pernyataan ini muncul setelah Presiden Donald Trump mengisyaratkan bahwa tekanan maritim tersebut bisa berlangsung selama berbulan-bulan ke depan.

Konfrontasi besar ini langsung memicu kekacauan di pasar energi global. Tercatat, harga minyak dunia melonjak ke level tertinggi dalam empat tahun terakhir.

Minyak mentah jenis Brent untuk pengiriman Juni naik tajam 7,1 persen hingga menembus angka $126 dolar per barel. Pezeshkian memperingatkan bahwa langkah sepihak Amerika ini hanya akan memperburuk stabilitas kawasan Teluk dalam jangka panjang.

Pelanggaran Hukum Internasional dan Stabilitas Teluk

Blokade yang dimulai sejak 13 April ini memicu protes keras dari Teheran. Presiden Pezeshkian menilai tindakan AS sangat bertentangan dengan tatanan hukum dunia.

“Upaya apa pun untuk memberlakukan blokade atau pembatasan maritim bertentangan dengan hukum internasional... dan pasti akan gagal,” kata Pezeshkian dalam pernyataan resminya.

Hingga saat ini, AS terus menutup akses ke pelabuhan Iran, sementara Republik Islam Iran tetap mempertahankan kontrol ketat atas Selat Hormuz. Jalur air sempit ini merupakan urat nadi energi dunia karena dilewati oleh sekitar seperlima pasokan minyak global.

Strategi Trump: "Mereka Tercekik Seperti Babi"

Di pihak lain, pemerintahan Donald Trump tampak semakin agresif untuk memaksa Iran menghentikan program nuklirnya. Berbicara kepada platform berita Axios, Trump menggunakan perumpamaan yang sangat tajam mengenai kondisi ekonomi Iran saat ini.

“Mereka tercekik seperti babi yang dijejali. Dan itu akan menjadi lebih buruk bagi mereka,” ujar Trump.

Trump juga dijadwalkan menerima pengarahan dari Laksamana Brad Cooper, kepala Komando Pusat AS (CENTCOM), terkait rencana baru potensi aksi militer. Data terbaru dari CENTCOM menunjukkan keberhasilan mereka mengalihkan 42 kapal komersial yang mencoba melanggar blokade.

Akibatnya, sebanyak 41 kapal tanker berisi 69 juta barel minyak milik Iran tertahan dan tidak bisa dijual, dengan taksiran kerugian mencapai lebih dari $6 miliar.

Dampak Ekonomi: Rial Jatuh dan Krisis di Lebanon

Tak hanya pasar minyak, ekonomi dalam negeri Iran juga menderita hebat hingga mata uang rial jatuh ke titik terendah sepanjang sejarah terhadap dolar. Di sisi lain, Trump juga menghadapi tekanan domestik karena naiknya biaya hidup bagi konsumen Amerika akibat perang yang berkepanjangan.

Ketua parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menilai blokade ini adalah strategi AS untuk memecah belah rakyat Iran.

“Blokade angkatan laut AS terhadap negara itu bertujuan untuk menciptakan perpecahan dan 'membuat kami runtuh dari dalam',” tegas Ghalibaf pada Rabu kemarin.

Situasi semakin pelik karena kekerasan masih berlanjut di front Lebanon. Laporan yang didukung PBB menyebutkan lebih dari 1,2 juta orang di Lebanon terancam kelaparan akut akibat konflik yang melibatkan Israel dan Hizbullah.

Presiden Lebanon, Joseph Aoun, mengingatkan bahwa satu-satunya jalan menuju keamanan hanyalah melalui negosiasi dan penerapan gencatan senjata secara penuh.

Hingga kini, solusi diplomasi masih buntu. Meskipun Iran mengusulkan pelonggaran di Selat Hormuz jika Washington mencabut blokade, pihak AS tetap bersikeras bahwa program nuklir Iran harus menjadi poin utama yang tidak bisa ditawar dalam perundingan.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber:

Berita Terkait