Harga Minyak Dunia Melonjak! Trump Peringatkan Blokade Iran Bisa Berlangsung Berbulan-bulan
Harga minyak dunia melonjak ke level tertinggi 4 tahun setelah Donald Trump peringatkan blokade panjang terhadap Iran.--
radarpena.co.id - Ketegangan geopolitik kembali memicu guncangan hebat di pasar energi global. Harga minyak mentah melonjak lebih dari 7 persen hingga menembus level tertinggi dalam empat tahun terakhir pada Kamis, 30 April 2026.
Kenaikan tajam ini terjadi setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengeluarkan peringatan keras bahwa blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran kemungkinan besar akan bertahan dalam waktu yang lama.
Presiden AS dikabarkan meragukan itikad baik Teheran dalam negosiasi terbaru untuk membuka kembali Selat Hormuz. Jalur laut ini sangat krusial karena menjadi perlintasan bagi seperlima pasokan minyak dan gas dunia.
Ancaman Blokade Panjang dan Potensi Aksi Militer
Melansir laporan dari Wall Street Journal, Trump telah menginstruksikan jajaran pejabat keamanan nasional untuk bersiap menghadapi skenario blokade panjang. Langkah ini bertujuan memaksa Republik Islam Iran agar sepenuhnya menghentikan program nuklir mereka.
Dalam pertemuan dengan para eksekutif minyak, pejabat Gedung Putih mengungkapkan bahwa Trump sedang mencari cara untuk menjaga stabilitas pasar domestik sambil terus menekan Iran.
"Kami berupaya meminimalkan dampak pada konsumen Amerika, namun blokade ini bisa berlanjut berbulan-bulan jika memang diperlukan," ujar sumber tersebut.
Selain tekanan ekonomi, opsi militer pun kini kembali ke meja kerja. Laksamana Brad Cooper selaku komandan CENTCOM dijadwalkan memberi pengarahan kepada Trump mengenai potensi serangan militer baru. Langkah ini memberi sinyal bahwa AS serius mempertimbangkan untuk melanjutkan operasi tempur besar guna memecah kebuntuan negosiasi.
"Trump mengatakan blokade itu 'agak lebih efektif daripada pengeboman. Mereka tercekik seperti babi yang dijejali. Dan itu akan menjadi lebih buruk bagi mereka. Mereka tidak boleh memiliki senjata nuklir'," tulis media Axios.
Harga minyak mentah dan Dampak Ekonomi Global
Kekhawatiran pasar bahwa krisis ini akan berlangsung lama membuat nilai jual emas hitam meroket. Harga minyak Brent untuk pengiriman Juni sempat menyentuh angka US$126,41 per barel, sebuah rekor tertinggi sejak invasi Rusia ke Ukraina pada 2022 lalu. Sementara itu, minyak West Texas Intermediate (WTI) juga naik signifikan ke level US$110,31.
Kenaikan biaya energi ini langsung memicu kepanikan di bursa saham internasional. Indeks saham di Tokyo, Hong Kong, Seoul, hingga Jakarta terpantau memerah. Analis menilai para pelaku pasar mulai pesimis bahwa krisis di Timur Tengah ini akan berakhir dalam waktu singkat.
Tak hanya sektor energi, UNDP memperingatkan bahwa perang ini juga melambungkan harga pupuk yang berisiko menjerumuskan lebih dari 30 juta orang ke jurang kemiskinan di berbagai negara.
Situasi di Iran: Ekonomi Terpuruk dan Rakyat Putus Asa
Di sisi lain, nilai mata uang Rial Iran jatuh ke titik terendah sepanjang sejarah terhadap dolar AS. Meskipun pemerintah Iran sempat mengajukan proposal baru, Washington tetap bersikap skeptis, terutama setelah serangan Israel yang menewaskan sejumlah pemimpin tinggi di wilayah tersebut.
Seorang warga Teheran mengungkapkan rasa lelahnya terhadap situasi ini kepada AFP.
"Masalahnya selalu nuklir. Tidak ada pembicaraan tentang rakyat, ekonomi, atau kebebasan. Rakyat berhak untuk bahkan tidak ingin mendengar kata 'negosiasi'," ungkap arsitek berusia 52 tahun tersebut.
Melalui platform Truth Social, Trump menegaskan posisinya dengan keras. Ia menulis bahwa Iran tidak tahu cara menandatangani kesepakatan non-nuklir dan harus "segera pintar" sebelum situasi menjadi lebih buruk bagi mereka. Blokade angkatan laut AS dipastikan tidak akan berakhir hingga kesepakatan nuklir yang baru berhasil diamankan.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: