Blokade Angkatan Laut AS Lumpuhkan Ekspor Minyak Iran: Jutaan Barel Terjebak di Laut!
Blokade angkatan laut AS memangkas ekspor minyak Iran hingga 80 persen.--
radarpena.co.id - Blokade angkatan laut Amerika Serikat terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran telah memangkas volume ekspor minyak Teheran secara drastis.
Berdasarkan data pengiriman dan analisis terbaru, kondisi ini menyebabkan tumpukan stok minyak mentah yang sangat besar di kapal tanker.
Hal ini terjadi lantaran tempat penyimpanan di darat milik Iran sudah kehabisan ruang untuk menampung komoditas tersebut.
Pasukan AS terus membalikkan kapal tanker Iran, sementara beberapa kapal lainnya memilih untuk mematikan sistem pelacakan otomatis mereka.
Kondisi ini membuat jumlah pasti minyak mentah yang berhasil dikirim Iran kepada para pelanggannya, terutama China sebagai pembeli utama, menjadi semakin sulit untuk diukur.
Menurut perusahaan analisis minyak Vortexa, hanya segelintir kapal pengangkut minyak mentah milik Teheran yang mampu meninggalkan Teluk Oman sepanjang periode 13 hingga 25 April.
Angka pengiriman tersebut merosot tajam hingga lebih dari 80 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama pada bulan Maret, ketika Iran masih sanggup mengekspor 23,4 juta barel berdasarkan data LSEG.
Selain itu, otoritas AS juga mencegat sejumlah kapal Teheran sesaat setelah mereka meninggalkan pelabuhan. Penyitaan ini tidak hanya menyasar kapal tanker di perairan Asia, tetapi juga menyasar kapal kontainer yang terkena sanksi internasional.
Mengganggu Stabilitas Pasar Minyak Dunia
"Pada tahap ini, kami memperkirakan sekitar 4 juta barel minyak mentah Iran telah berhasil keluar dari Teluk Oman. Saat ini kami belum dapat memastikan apakah ada kapal yang telah dicegat," demikian pernyataan resmi yang disampaikan melalui email kepada Reuters.
Hilangnya pasokan dari Iran secara mendadak ini semakin memperketat kondisi pasar global. Apalagi, konflik yang terjadi saat ini secara efektif telah menutup Selat Hormuz.
Jalur perdagangan penting ini membatasi ekspor minyak dari negara-negara produsen besar seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab (UEA), Kuwait, dan Irak. Alhasil, harga minyak dunia pun melonjak tinggi—sebuah situasi yang sebenarnya sangat ingin dihindari oleh pihak Amerika Serikat.
Sebelumnya pada bulan lalu, Amerika Serikat sempat memberikan pengecualian sanksi ekspor energi secara sementara kepada Teheran. Langkah tidak terduga ini diambil dengan harapan bisa mendinginkan volatilitas harga di pasar global.
Namun, harga minyak mentah Brent acuan LCOc1 justru terus melonjak sekitar US$50 per barel sejak perang Iran meletus pada 28 Februari lalu. Kenaikan harga minyak mentah ini otomatis mengerek naik harga bahan bakar hilir seperti bensin, solar, hingga bahan bakar jet.
Badan Energi Internasional bahkan menyebut situasi ini sebagai salah satu gangguan produksi minyak terbesar yang pernah terjadi di dunia.
Kapal Tanker Tertahan di Teluk Oman
Para analis di Kpler mengonfirmasi bahwa mereka belum melihat adanya kapal tanker minyak mentah Iran yang berhasil keluar dari Teluk Oman sejak blokade laut diberlakukan.
Otoritas Amerika Serikat pada hari Rabu lalu menegaskan bahwa aksi blokade ini bertujuan penuh untuk menghalangi Teheran mendapatkan pendapatan vital dari sektor ekspor minyak bumi.
"Saat ini ada 41 kapal tanker dengan 69 juta barel minyak yang tidak dapat dijual oleh rezim Iran," ungkap perwakilan Komando Pusat AS (CENTCOM) dalam keterangan resminya pada hari Rabu.
Dampak dari tekanan ekonomi ini langsung terasa pada nilai mata uang lokal. Mata uang Iran, rial, langsung jatuh bebas ke titik terendah sepanjang masa terhadap dolar AS pada hari Rabu.
Penurunan nilai tukar tersebut semakin mempertegas kesulitan finansial yang kini menjerat ekonomi Iran yang sangat bergantung pada penjualan minyak.
Meskipun menghadapi tekanan luar biasa dari segala sisi, Iran dilaporkan masih terus memuat minyak mentah di fasilitas ekspor utamanya yang terletak di Pulau Kharg. Informasi dari perusahaan intelijen maritim TankerTrackers menyebutkan bahwa aktivitas pemuatan di sana masih tetap berjalan.
Lebih lanjut, TankerTrackers menambahkan bahwa citra satelit terbaru menunjukkan setidaknya ada 10 kapal tanker yang saat ini sedang terparkir di lepas pantai pelabuhan Chah Bahar Iran di wilayah Teluk Oman.
Iran Terancam Pangkas Produksi Minyak
Pada bulan Februari lalu, Iran tercatat memompa sekitar 3,24 juta barel minyak mentah per harinya, di mana sekitar setengahnya dialokasikan untuk memenuhi kebutuhan penyulingan domestik di dalam negeri. Meskipun begitu, analis Kpler bernama Johannes Rauball memprediksi bahwa Iran kemungkinan besar akan terpaksa memangkas tingkat produksi minyak mereka dalam satu atau dua minggu ke depan.
Berikut adalah rincian kapasitas penyimpanan Iran yang mendorong langkah tersebut:
-
Kapasitas Penyimpanan di Darat: Kini telah terisi sekitar 60 persen dari total kapasitas.
-
Volume Stok Saat Ini: Berada di atas angka 50 juta barel.
-
Kapasitas Maksimal: Mencapai 86 juta barel, sehingga hanya menyisakan sedikit ruang untuk produksi baru.
Selain itu, konsultan energi FGE NextantECA pada 15 April lalu juga memperkirakan bahwa keterbatasan kapasitas tangki penyimpanan ini akan memaksa Iran untuk segera menurunkan angka produksi minyak mentahnya paling lambat pada pertengahan Juni mendatang.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: