Pejabat Militer Iran: Perang dengan AS Kemungkinan Besar Kembali Pecah!

Pejabat Militer Iran: Perang dengan AS Kemungkinan Besar Kembali Pecah!

Pejabat militer Iran sebut perang dengan AS kemungkinan besar kembali pecah.--

 

radarpena.co.id – Seorang perwira militer senior Iran memperingatkan bahwa pertempuran baru antara Amerika Serikat dan Iran kemungkinan besar akan terjadi kembali. Pernyataan tegas ini keluar hanya beberapa jam setelah Presiden Donald Trump menyatakan dirinya tidak puas dengan proposal negosiasi baru yang Teheran ajukan melalui mediator.

Tokoh senior di komando pusat militer Iran, Mohammad Jafar Asadi, menegaskan bahwa situasi di lapangan menunjukkan peluang konfrontasi militer susulan yang sangat tinggi. Ia menilai Washington tidak menunjukkan iktikad baik dalam menghormati kesepakatan yang ada.

“Konflik baru antara Iran dan Amerika Serikat kemungkinan besar akan terjadi,” kata Asadi seperti yang dikutip oleh kantor berita Fars Iran pada Sabtu pagi. Ia menambahkan bahwa, "Bukti telah menunjukkan bahwa Amerika Serikat tidak berkomitmen pada janji atau perjanjian apa pun."

Trump Tolak Mentah-Mentah Proposal Damai Teheran

Sebelumnya, Iran telah menyerahkan draf proposal negosiasi kepada mediator Pakistan pada Kamis malam. Namun, Presiden Donald Trump langsung menyatakan ketidakpuasannya terhadap isi draf tersebut kepada para wartawan.

Ia menyalahkan perselisihan internal yang luar biasa di dalam jajaran kepemimpinan Iran sebagai penyebab macetnya negosiasi.

"Saat ini saya tidak puas dengan apa yang mereka tawarkan," kata Trump. Ia bahkan melontarkan pernyataan yang cukup keras mengenai arah kebijakan luar negerinya terhadap Iran.

"Apakah kita ingin langsung menghancurkan mereka dan mengakhiri mereka selamanya - atau apakah kita ingin mencoba dan membuat kesepakatan?" tambah Trump, meski ia mengaku lebih memilih opsi kedua atas dasar kemanusiaan.

Di sisi lain, kepala peradilan Iran, Gholamhossein Mohseni Ejei, menyatakan bahwa Teheran sebenarnya tidak pernah menutup pintu negosiasi. Namun, ia memastikan negaranya tidak akan menerima pemaksaan syarat perdamaian yang merugikan.

"Tidak pernah menghindari negosiasi," kata Ejei, tetapi ia menegaskan bahwa mereka tidak akan menerima pemaksaan dalam bentuk apa pun.

Dampak Penutupan Selat Hormuz dan Kondisi Warga

Kabar mengenai usulan damai ini sempat menurunkan harga minyak dunia hingga hampir lima persen. Meski begitu, nilainya tetap berada 50 persen di atas level sebelum perang akibat penutupan Selat Hormuz yang masih berlangsung hingga hari ini.

Selat Hormuz merupakan jalur vital bagi perdagangan global yang saat ini masih memicu krisis ekonomi:

  • Aliran Komoditas Terhenti: Pasokan utama minyak, gas, dan pupuk ke pasar internasional terhambat karena kendali ketat militer Iran atas selat tersebut.

  • Blokade Balasan AS: Washington membalas dengan memberlakukan blokade penuh terhadap pelabuhan-pelabuhan milik Iran.

  • Inflasi di Iran Meroket: Harga kebutuhan pokok di Iran melonjak drastis dengan tingkat inflasi yang kini menembus angka di atas 50 persen.

Bagi warga Teheran seperti Amir, kebuntuan politik dan militer ini sangat menyiksa kehidupan sehari-hari. Kepada wartawan AFP di Paris, ia menggambarkan situasi ini dengan penuh keputusasaan.

"Ini terasa seperti kita terjebak di purgatorium," keluh Amir. Ia juga merasa tidak yakin dengan draf perdamaian yang diajukan negaranya dan memprediksi bahwa Amerika Serikat bersama Israel akan segera melancarkan serangan baru.

Sanksi Ekonomi Kian Membebani Masyarakat

Washington juga terus menekan Teheran dengan menjatuhkan sanksi baru terhadap tiga perusahaan mata uang Iran. Mereka melarang pihak lain membayar biaya jalur aman melalui Selat Hormuz yang diminta oleh Iran.

Berdasarkan data militer AS, blokade ketat di berbagai pelabuhan telah menghentikan ekspor minyak Iran senilai US$6 miliar. Kondisi ini membuat perekonomian Iran kian rapuh dan sangat membebani masyarakat kelas bawah.

"Bagi banyak orang, membayar sewa dan bahkan membeli makanan menjadi sulit, dan beberapa orang tidak memiliki apa pun lagi," ungkap Mahyar, seorang pemuda Iran berusia 28 tahun, kepada reporter AFP yang berada di luar negeri.

Menghadapi kesulitan ekonomi yang parah ini, pemimpin tertinggi Mojtaba Khamenei mengimbau para pelaku usaha untuk tidak melakukan pemutusan hubungan kerja.

"Pemilik bisnis yang terkena dampak harus menghindari, sebisa mungkin, PHK dan pemutusan hubungan kerja," imbaunya. Selain itu, ia juga mengancam para musuh Iran dengan mengobarkan semangat jihad di bidang ekonomi dan budaya.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber:

Berita Terkait