Dianggap Belum Memuaskan, Trump Tolak Proposal Baru Iran
Trump menolak proposal negosiasi baru Iran karena menganggap tawaran Teheran belum memuaskan untuk mengakhiri konflik.--
radarpena.co.id – Presiden Amerika Serikat Donald Trump secara tegas menyatakan ketidakpuasannya terhadap proposal negosiasi baru yang diajukan oleh Iran.
Pernyataan ini muncul di tengah kebuntuan proses perdamaian yang telah berlangsung selama beberapa minggu, meski kedua belah pihak saat ini sedang berada dalam masa gencatan senjata.
Sebelumnya, pihak Iran telah menyerahkan draf proposal perdamaian tersebut kepada mediator Pakistan pada Kamis malam waktu setempat.
Kantor berita resmi Iran, IRNA, melaporkan penyerahan dokumen ini tanpa memberikan rincian lebih lanjut mengenai poin-poin yang ada di dalamnya.
"Saat ini saya tidak puas dengan apa yang mereka tawarkan," ujar Trump kepada para jurnalis, Jumat, 1 Mei 2026.
Trump menilai bahwa kebuntuan dalam proses negosiasi tersebut terjadi karena adanya perselisihan internal yang luar biasa di dalam jajaran kepemimpinan Iran.
Dalam keterangannya, Trump juga melontarkan pilihan ekstrem terkait masa depan konflik ini. "Apakah kita ingin langsung menghancurkan mereka dan mengakhiri mereka selamanya -- atau apakah kita ingin membuat kesepakatan?" imbuhnya.
Namun, ia menambahkan bahwa dirinya "lebih memilih untuk tidak" mengambil opsi pertama yang merusak tersebut "atas dasar kemanusiaan".
Hingga kini, Gedung Putih masih menutup rapat rincian isi draf proposal Iran tersebut. Namun, situs berita Axios melaporkan bahwa utusan khusus AS Steve Witkoff telah mengajukan sejumlah amandemen.
Langkah ini memasukkan kembali isu program nuklir Teheran ke dalam meja perundingan. Amandemen tersebut kabarnya menuntut Iran agar tidak memindahkan uranium yang telah diperkaya dari fasilitas yang sempat dibom, serta melarang kelanjutan aktivitas nuklir selama proses negosiasi berjalan.
Ketegangan di Selat Hormuz dan Dampak Ekonomi Global
Konflik bersenjata ini awalnya meletus pada 28 Februari lalu melalui serangan mendadak yang dilancarkan oleh Amerika Serikat dan Israel. Sejak 8 April, pertempuran sempat mereda akibat masa gencatan senjata, namun pembicaraan langsung yang baru digelar satu kali berakhir tanpa hasil.
Hingga saat ini, Iran masih mempertahankan kendali ketat di Selat Hormuz. Langkah Teheran ini secara langsung mencekik jalur distribusi utama minyak, gas, dan pupuk untuk kebutuhan ekonomi dunia. Sebagai langkah balasan, Amerika Serikat menerapkan blokade ketat di pelabuhan-pelabuhan milik Iran.
Meskipun status gencatan senjata masih berlaku, pertempuran kecil tetap pecah di berbagai wilayah Timur Tengah. Di front Lebanon, militer Israel terus melancarkan serangan mematikan meski sempat menyepakati gencatan senjata pada 17 April dengan kelompok Hizbullah yang mendapat dukungan dari Iran.
Kementerian Kesehatan Lebanon melaporkan bahwa 12 orang tewas akibat serangan Israel di wilayah selatan, termasuk di kota Habboush. Serangan tersebut terjadi tak lama setelah tentara Israel mengeluarkan perintah evakuasi. Kantor Berita Nasional Lebanon mengonfirmasi bahwa jet tempur Israel "melancarkan serangkaian serangan berat ... kurang dari satu jam setelah" peringatan evakuasi dirilis.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: