Trump Sebut Iran Minta AS Buka Selat Hormuz Sesegera Mungkin, Benarkah?
Trump menolak proposal negosiasi baru Iran karena menganggap tawaran Teheran belum memuaskan untuk mengakhiri konflik.--
radarpena.co.id - Dunia internasional kembali menyoroti pernyataan terbaru Presiden AS Donald Trump mengenai situasi panas di Timur Tengah.
Melalui platform media sosial miliknya, TruthSocial, Trump melontarkan klaim mengejutkan bahwa Iran saat ini sedang berada dalam kondisi kritis atau "keadaan runtuh".
Tak hanya itu, Trump menyebut pihak Teheran telah menghubungi Washington dengan permohonan khusus untuk membuka kembali jalur pelayaran vital, Selat Hormuz, dalam waktu dekat. Jalur ini memang menjadi kunci bagi stabilitas ekonomi dan logistik di kawasan tersebut.
“Iran baru saja memberi tahu kami bahwa mereka berada dalam ‘Keadaan Runtuh’,” tulis Trump di platform media sosialnya, TruthSocial. “Mereka ingin kami ‘Membuka Selat Hormuz,’ sesegera mungkin, karena mereka mencoba untuk menyelesaikan situasi kepemimpinan mereka (Yang saya yakini akan dapat mereka lakukan!)”
Meskipun Trump melempar pernyataan ini ke publik, ia tidak merinci detail komunikasi yang terjadi. Hingga saat ini, belum ada konfirmasi resmi dari para pejabat di Teheran terkait klaim tersebut.
Proposal Teheran yang Membuat Trump Tidak Puas
Pernyataan berani Trump ini muncul di tengah laporan yang menyebutkan bahwa sang Presiden sebenarnya kurang sreg dengan usulan yang diajukan Iran.
Laporan dari The New York Times menunjukkan bahwa Trump telah menerima pengarahan mengenai rencana pembukaan kembali selat tersebut dalam pertemuan di Ruang Situasi Gedung Putih pada Senin kemarin.
Namun, proposal tersebut tampaknya belum memenuhi standar Washington. Berikut adalah poin-poin utama dalam usulan Iran:
-
Meminta Amerika Serikat mengakhiri blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.
-
Memperpanjang gencatan senjata hingga menjadi permanen.
-
Memulai pembicaraan nuklir, namun hanya setelah pembatasan maritim dicabut sepenuhnya.
Masalah utamanya, proposal ini kabarnya sama sekali tidak menyentuh pembahasan program nuklir Iran. Hal ini menjadi titik buntu karena masalah nuklir merupakan poin paling krusial bagi Amerika Serikat.
Kilas Balik Konflik AS-Israel dan Iran
Ketegangan ini merupakan buntut dari operasi militer besar yang terjadi pada awal tahun. Sebagai pengingat, Amerika Serikat dan Israel meluncurkan serangan gabungan ke Iran pada 28 Februari lalu.
Iran kemudian membalas dengan menyerang Israel serta beberapa negara regional yang menampung aset-aset militer Amerika.
Pejabat Iran melaporkan bahwa operasi militer AS-Israel tersebut telah menewaskan lebih dari 3.300 orang.
Setelah eskalasi yang mematikan itu, Washington dan Teheran akhirnya menyepakati gencatan senjata selama dua minggu pada 8 April yang dimediasi oleh Pakistan.
Status Gencatan Senjata Saat Ini
Awalnya, masa damai sementara ini dijadwalkan berakhir pada 22 April. Namun, demi stabilitas kawasan, Trump mengambil keputusan penting pada 21 April lalu.
Atas permintaan Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif dan kepala militer Asim Munir, Trump mengumumkan perpanjangan gencatan senjata tanpa batas waktu.
Langkah ini diharapkan mampu memberi ruang bagi dialog diplomatik, meskipun klaim terbaru Trump tentang "keruntuhan" Iran kembali memanaskan suasana politik global.
Saat ini, mata dunia tertuju pada bagaimana Amerika Serikat merespons keinginan Iran terkait Selat Hormuz tanpa mengabaikan isu keamanan nuklir yang menjadi prioritas mereka.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: