Utang Indonesia Tembus 437,9 Miliar Dolar AS, Bank Indonesia: Struktur Tetap Sehat
Utang Indonesia Naik Lagi--ist
sultra.disway.id - Bank Indonesia (BI) melaporkan posisi Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia pada Februari 2026 mencapai 437,9 miliar dolar AS.
Meski mencatat kenaikan secara nominal, otoritas moneter menegaskan bahwa struktur utang nasional masih dalam batas aman dan terkendali.
Rasio ULN Indonesia terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) tercatat sebesar 29,8 persen, angka yang dinilai tetap stabil dan mencerminkan pengelolaan yang pruden di tengah dinamika ekonomi global.
BACA JUGA:Jadwal Lengkap Thomas & Uber Cup 2026: Ambisi Indonesia Rebut Kembali Mahkota Bulutangkis di Denmark
Sektor Publik Jadi Pendorong Utama
Berdasarkan data terbaru, angka ULN Februari meningkat tipis dibandingkan posisi Januari 2026 yang sebesar 434,9 miliar dolar AS. Secara tahunan, ULN tumbuh 2,5 persen (yoy), naik dari pertumbuhan bulan sebelumnya yang hanya 1,7 persen.
Direktur Departemen Komunikasi BI, Anton Pitono, mengungkapkan bahwa tren kenaikan ini mayoritas dipicu oleh sektor publik.
"Peningkatan ini terutama didorong oleh sektor publik, khususnya bank sentral, seiring dengan derasnya aliran modal asing yang masuk ke instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI)," ujar Anton dalam keterangan resminya.
Fokus Pemerintah: Utang Jangka Panjang untuk Sektor Strategis
ULN pemerintah tercatat sebesar 215,9 miliar dolar AS (tumbuh 5,5 persen yoy). Menariknya, pemerintah menunjukkan komitmen pada stabilitas jangka panjang dengan porsi utang tenor panjang mencapai 99,98 persen.
BACA JUGA:Koper Jemaah Haji 2026 Segera Dikirim! Kemenhaj Pastikan Distribusi Logistik Tepat Waktu
Dana pinjaman tersebut dialokasikan secara produktif untuk menopang sektor-sektor krusial, di antaranya:
- Kesehatan & Sosial: 22,0%
- Administrasi Pemerintah: 20,3%
- Pendidikan: 16,2%
- Konstruksi: 11,6%
- Transportasi: 8,5%
Kontras, Utang Swasta Justru Mengalami Kontraksi
Berbeda dengan sektor publik, ULN swasta justru menunjukkan tren penurunan sebesar 0,7 persen (yoy) menjadi 193,7 miliar dolar AS. Penurunan ini mencakup utang pada lembaga keuangan maupun perusahaan non-keuangan.
BACA JUGA:Harga Tiket Pesawat Haji 2026 Terancam Naik, Garuda & Saudia Ajukan Tambahan Jutaan Rupiah!
Sektor industri pengolahan, jasa keuangan, energi, dan pertambangan masih menjadi kontributor utama dengan pangsa pasar mencapai 80,3 persen dari total utang swasta.
Menjaga Ketahanan Ekonomi Nasional
BI menegaskan bahwa dominasi utang jangka panjang (84,9% dari total ULN) menjadi jangkar kuat dalam menghadapi ketidakpastian pasar keuangan global.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: