Trump Klaim Hampir Menang Lawan Iran, Publik AS Justru Ragu!
Presiden AS Donald Trump sesumbar bisa segera menangkan perang melawan Iran.--
radarpena.co.id - Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, kembali membuat pernyataan tegas terkait konflik dengan Iran. Dalam pidato malam dari Gedung Putih, ia menyebut Amerika Serikat hampir meraih kemenangan setelah lebih dari sebulan perang berlangsung.
Trump menegaskan bahwa militernya berada di ambang keberhasilan. Ia juga berjanji akan meningkatkan serangan dalam beberapa minggu ke depan.
"Kita akan menyelesaikan pekerjaan ini, dan kita akan menyelesaikannya dengan sangat cepat. Kita sudah sangat dekat," katanya.
Namun, pernyataan tersebut tidak memberikan kejelasan baru tentang akhir konflik. Sebaliknya, banyak pihak justru mempertanyakan arah kebijakan yang diambil.
Strategi Militer AS: Hancurkan Iran dan Cegah Nuklir
Dalam pidatonya, Trump menjelaskan tiga tujuan utama Amerika Serikat dalam perang ini. Ia ingin menghancurkan kekuatan militer Iran, menghentikan dukungan terhadap kelompok bersenjata regional, serta mencegah pengembangan senjata nuklir.
Ia mengklaim misi tersebut hampir tercapai.
"Saya senang mengatakan bahwa tujuan strategis inti ini hampir selesai," ujar Trump dalam pidato berdurasi 19 menit.
Meski begitu, sejumlah pengamat menilai ancaman nuklir Iran bukan ancaman yang akan terjadi dalam waktu dekat.
Dampak Perang: Harga Minyak Naik, Ekonomi Tertekan
Konflik yang dimulai sejak 28 Februari itu tidak hanya berdampak pada militer, tetapi juga mengguncang ekonomi global.
Iran merespons dengan menguasai Selat Hormuz, jalur vital yang mengalirkan seperlima minyak dunia. Akibatnya, harga minyak melonjak tajam.
Di Amerika Serikat, harga bensin bahkan menembus lebih dari US$1 per liter untuk pertama kalinya dalam beberapa tahun terakhir. Kondisi ini langsung memukul kepercayaan konsumen dan memperburuk posisi politik Trump.
Pasar keuangan juga bereaksi negatif. Harga saham turun, sementara harga minyak kembali naik setelah pidato Trump, karena harapan akan berakhirnya perang memudar.
Ancaman “Zaman Batu” Picu Kontroversi
Trump juga melontarkan ancaman keras kepada Iran. Ia menyatakan bahwa jika tidak ada kesepakatan, Amerika Serikat akan menyerang infrastruktur energi Iran.
"Selama dua hingga tiga minggu ke depan, kita akan membawa mereka kembali ke Zaman Batu, tempat mereka seharusnya berada," kata Trump.
Ancaman ini memicu kritik tajam. Serangan terhadap infrastruktur sipil dinilai melanggar hukum perang dan berpotensi menjadi kejahatan perang.
Klaim Diplomasi Dibantah Iran
Trump sebelumnya menyebut Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, berupaya mencapai gencatan senjata. Namun, klaim tersebut langsung dibantah oleh Kementerian Luar Negeri Iran.
Iran menilai tuntutan Amerika Serikat terlalu berlebihan dan tidak rasional. Hal ini menunjukkan bahwa jalur diplomasi masih jauh dari kata sepakat.
Kritik Politik Muncul dari Dalam Negeri
Pidato Trump juga menuai kritik dari dalam negeri. Senator Demokrat Chris Murphy mempertanyakan arah kebijakan presiden.
"Siapa pun yang menonton pidato itu tidak tahu apakah Trump meningkatkan atau mengurangi eskalasi perang dengan Iran."
"Tetapi jujur saja, dia sendiri pun tidak tahu," tulis Murphy di X.
Pernyataan ini mencerminkan kebingungan yang dirasakan banyak pihak terkait strategi Amerika Serikat.
Tekanan ke Sekutu dan Ketegangan Global
Selain Iran, Trump juga menekan negara-negara lain. Ia meminta sekutu Eropa dan negara Teluk untuk mengambil peran lebih besar dalam menjaga stabilitas Selat Hormuz.
Menurutnya, negara-negara yang bergantung pada minyak dari kawasan tersebut harus berani bertindak.
Trump bahkan mengkritik sekutu Eropa karena tidak mendukung langkah militernya sejak awal konflik.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: