AS Kerahkan 10.000 Personel, Kapal Perang, dan Jet Tempur untuk Blokade Pelabuhan Iran
Blokade AS di pelabuhan Iran libatkan 10.000 personel & belasan kapal perang.--
radarpena.co.id - Situasi di jalur perdagangan dunia semakin memanas. Komando Pusat AS (CENTCOM) baru saja merilis data mengejutkan mengenai kekuatan militer yang mereka kerahkan untuk memblokade pelabuhan-pelabuhan Iran.
Tidak tanggung-tanggung, operasi besar ini melibatkan lebih dari 10.000 personel militer, belasan kapal perang, hingga puluhan pesawat tempur.
Langkah agresif ini merupakan tindak lanjut dari perintah Presiden AS, Donald Trump. Pihak militer menyatakan bahwa dalam 24 jam pertama, penjagaan mereka sangat ketat sehingga tidak ada satu pun kapal yang berhasil menembus barikade menuju pelabuhan Iran.
“Selama 24 jam pertama, tidak ada kapal yang berhasil melewati blokade AS dan 6 kapal dagang mematuhi arahan dari pasukan AS untuk berbalik dan memasuki kembali pelabuhan Iran di Teluk Oman,” kata Komando Pusat AS dalam pernyataan resminya pada hari Selasa, 14 April 2026.
AS Klaim Blokade Berlaku Imparsial
Pihak Amerika Serikat menegaskan bahwa tindakan ini tidak memandang bulu. Aturan tersebut menyasar seluruh kapal dari negara mana pun yang mencoba masuk atau keluar dari daerah pesisir Iran, baik di Teluk Arab maupun Teluk Oman.
Meski demikian, Washington tetap mengeklaim bahwa mereka mendukung kebebasan navigasi bagi kapal-kapal yang menuju pelabuhan selain milik Iran.
“Pasukan AS mendukung kebebasan navigasi bagi kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz ke dan dari pelabuhan non-Iran,” lanjut pernyataan tersebut.
Laporan Maritim: Setidaknya Dua Kapal Berhasil Melintas
Namun, klaim ketatnya blokade ini mendapat tantangan dari data pelacakan maritim. Berdasarkan pantauan penyedia data Kpler, setidaknya ada dua kapal yang terpantau tetap berlayar dari pelabuhan Iran melintasi Selat Hormuz pada hari Senin, tepat setelah blokade dimulai pukul 14.00 GMT.
Kedua kapal tersebut adalah:
-
Christianna (Berbendera Liberia): Kapal pengangkut curah ini terpantau melintas sekitar pukul 16.00 GMT setelah membongkar muatan 74.000 ton jagung di pelabuhan Bandar Imam Khomeini.
-
Elpis (Berbendera Komoro): Kapal tanker ini membawa 31.000 ton metanol dari pelabuhan Bushehr dan meninggalkan selat di waktu yang hampir bersamaan dengan Christianna.
Selain itu, sebuah kapal tanker asal Tiongkok, Rich Starry, juga terpantau melintasi selat semalaman melalui rute pemeriksaan yang disetujui Iran. Media pelayaran ternama, Lloyd’s List, bahkan menafsirkan perjalanan kapal Tiongkok ini sebagai sebuah "uji coba" terhadap keberanian blokade militer Donald Trump.
Tantangan Pelacakan di Tengah Konflik
Meskipun data Kpler menunjukkan adanya kapal yang melintas, para analis maritim mengingatkan bahwa situasi di lapangan sangat rumit.
Selama beberapa minggu terakhir, sinyal kapal di wilayah konflik tersebut sering kali terganggu atau bahkan sengaja dimanipulasi.
Hal ini membuat pelacakan posisi kapal secara presisi menjadi tantangan tersendiri bagi otoritas internasional.
Hingga saat ini, dunia masih terus memantau apakah pengerahan kekuatan besar militer AS mampu benar-benar menutup total akses ekonomi Iran atau justru memicu gesekan yang lebih luas di jalur energi global ini.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: