Gen Z vs Milenial: Siapa Paling Jago Atur Uang Hadapi Tekanan Ekonomi Ramadan 2026?

Gen Z vs Milenial: Siapa Paling Jago Atur Uang Hadapi Tekanan Ekonomi Ramadan 2026?

Illustrasi --

radarpena.co.id - Memasuki pekan-pekan krusial menjelang Lebaran 2026, tekanan pengeluaran rumah tangga di Indonesia mulai mencapai titik puncaknya. Masyarakat kini menghadapi hantaman kebutuhan yang datang bersamaan, mulai dari biaya hidup harian, persiapan mudik, hingga tradisi berbagi hampers. Fenomena ini memaksa keluarga di Indonesia untuk memutar otak lebih keras guna menjaga arus kas (cash flow) agar tidak jebol.

Survei terbaru dari Amar Bank yang melibatkan lebih dari 1.600 responden di kota-kota besar seperti Jabodetabek, Bandung, Surabaya, dan Makassar mengungkapkan fakta menarik. Sebanyak 87 persen responden mengakui bahwa pengeluaran mereka melonjak drastis selama Ramadan. Meski demikian, hanya sekitar 16,9 persen yang merasa kondisi keuangan mereka tetap berada di zona nyaman.

Berbeda dengan anggapan umum bahwa belanja baju baru atau gaya hidup menjadi pemicu utama, survei ini justru menunjukkan hal lain. Pos pengeluaran terbesar datang dari kebutuhan rumah tangga rutin yang mencapai 86,0 persen.

Baru setelah itu, pengeluaran musiman seperti baju Lebaran, buka bersama, dan hampers menyusul di angka 67,6 persen, serta tiket mudik sebesar 26,4 persen. Data ini menegaskan bahwa tantangan finansial Ramadan sebenarnya lebih dekat dengan penumpukan kebutuhan pokok yang terjadi dalam periode singkat.

BACA JUGA:47 Ribu Kendaraan Serbu Jakarta Lewat Cipali, Segera Cek Aturan One Way jika Tak Ingin Terjebak Macet!

BACA JUGA:Hanya Sekejap di Rumah! KPK Seret Kembali Yaqut Cholil ke Rutan, Ada Agenda Besar yang Siap Dibongkar Besok?

Gen Z yang Defensif vs Milenial yang Taktis

Menariknya, survei ini memotret perbedaan kontras antara generasi Z dan Milenial dalam menyikapi krisis keuangan musiman ini.

Generasi Z cenderung mengambil posisi defensif. Saat menghadapi pengeluaran tak terduga, 46 persen dari mereka lebih memilih mengandalkan dana darurat. Namun, sekitar 38,3 persen lainnya mulai menggabungkan dana darurat dengan pinjaman. Kelompok ini merasakan tekanan paling hebat justru di penghujung Ramadan. Sekitar 42,0 persen Gen Z merasa kantong mereka semakin menipis saat hari raya semakin dekat. Bagi mereka, bertahan hingga fase terberat terlewati adalah prioritas utama.

Di sisi lain, Milenial tampil lebih taktis dan berani dalam menyusun bantalan keuangan. Sekitar 42,0 persen Milenial tidak ragu menggabungkan dana darurat dengan pinjaman agar aktivitas ekonomi tetap berjalan. Milenial juga lebih terbiasa menghadapi arus kas yang naik-turun setiap minggunya. Strategi kombinasi ini mereka ambil agar kebutuhan keluarga tetap terpenuhi tanpa harus menunggu situasi benar-benar aman.

THR: Jangkar Psikologis dan Alat Stabilitas

Bagi mayoritas pekerja, Tunjangan Hari Raya (THR) bukan sekadar uang bonus untuk foya-foya. Sebanyak 72,8 persen responden memandang THR sebagai "jangkar" atau cadangan dalam mengambil keputusan keuangan, termasuk saat memutuskan untuk meminjam dana.

Masyarakat menggunakan pinjaman sebagai stability tool atau alat penjaga stabilitas. Alasan utamanya sangat fungsional: 33,6 persen untuk menalangi kebutuhan sambil menunggu THR cair, dan 29,0 persen untuk menutup celah gaji yang tidak mencukupi. Hanya 15,3 persen responden yang mengaku meminjam uang karena dorongan belanja di luar rencana.

BACA JUGA:Nekat di Tengah Larangan! Penyapu Koin Masih Marak di Pantura Saat Arus Balik Lebaran

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: