Awas! Kanker Jadi Mesin Pembunuh Anak Muda Indonesia, Pemerintah Malah 'Tak Berkutik' Hadapi Oligarki?
Tulus Abadi, Pegiat Perlindungan Konsumen, Sekjend Komnas Pengendalian Tembakau--
Radarpena.co.id - Peringatan Hari Kanker Sedunia setiap 4 Februari seharusnya menjadi alarm keras bagi masyarakat Indonesia. Penyakit kanker kini bukan lagi momok bagi lansia saja, melainkan mulai menyerang generasi muda di bawah usia 40 tahun secara brutal. Sebagai salah satu penyakit tidak menular yang bersifat katastropik, kanker bersama jantung, stroke, dan diabetes, sedang bertransformasi menjadi mesin pembunuh nomor satu di tanah air.
Data menunjukkan fakta yang sangat mengerikan. Tingkat kematian akibat kanker di Indonesia menyentuh angka 59,24%, sebuah angka yang mencerminkan betapa rapuhnya perlindungan kesehatan masyarakat kita saat ini. Jika pemerintah tidak segera mengambil langkah radikal, kasus kanker diprediksi bakal melonjak hingga 70 persen pada tahun 2050 mendatang.
Data Kemenkes: Kematian Prematur Menghantui Usia Produktif
Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) dan data Globocan teranyar, Indonesia mencatat 408.661 kasus kanker dengan total kematian mencapai 242.099 jiwa. Ironisnya, tren kematian prematur—yakni penderita berusia 30 hingga 69 tahun—terus meningkat. Prevalensi kanker pun merangkak naik dari 1,2 per 1000 penduduk menjadi 1,8 per 1000 penduduk.
Kanker paru, payudara, serviks, kolorektal, dan hati menjadi lima jenis kanker paling dominan. Khusus untuk pria, kanker paru menjadi predator utama. Penyebabnya sudah bisa ditebak: tingginya konsumsi rokok. Mirisnya, rata-rata usia diagnosis kanker paru di Indonesia adalah 58 tahun, jauh lebih muda 10 tahun dibandingkan rata-rata global.
Rokok dan Minuman Manis: Bom Waktu Bagi Generasi Z
Pegiat Perlindungan Konsumen dan Ketua FKBI, Tulus Abadi, menyoroti gaya hidup tak sehat sebagai pencetus utama ledakan kasus kanker. Konsumsi rokok memberikan kontribusi risiko sebesar 35,5 persen, disusul oleh kurangnya aktivitas fisik (21,5 persen), dan diet tidak seimbang (17,1 persen).
Generasi muda saat ini, khususnya Gen Z, terjebak dalam pola konsumsi yang berbahaya. Hobi mengonsumsi minuman manis dalam kemasan (MBDK) dan makanan olahan (ultra-processed food) seperti sosis serta nugget menjadi bensin bagi pertumbuhan sel kanker. Apalagi, orang Indonesia kini dicap sebagai warga yang paling malas berjalan kaki di dunia.
Kebijakan Mangkrak: Pemerintah Lebih Berpihak pada Oligarki?
Di tengah krisis kesehatan ini, pemerintah justru dituding bersikap ambigu dan tidak serius melakukan mitigasi. Hingga Januari 2026, aturan turunan dari PP No. 28/2024 tentang Kesehatan masih terkatung-katung. Rapermenkes tentang pengendalian gula, garam, dan lemak (GGL) tak kunjung rampung, sementara rencana cukai minuman manis terus ditunda.
“Pemerintah lebih memilih dan berpihak pada kepentingan oligarki ekonomi (industri makanan/minuman dan industri rokok), daripada menjaga kesehatan warganya, sehingga membiarkan warganya terpapar berbagai penyakit katastropik,” tegas Tulus Abadi dalam refleksi tertulisnya.
Begitu pula dengan aturan pengendalian tembakau. Larangan menjual rokok ketengan hingga pembatasan iklan rokok di media elektronik seolah sengaja dimangkrakkan. Padahal, prevalensi perokok anak sudah menyentuh angka 7,4 persen—sebuah angka yang sangat mengkhawatirkan bagi masa depan bangsa.
Jangan Tunggu Negara! Lindungi Keluarga Secara Mandiri
Melihat sikap pemerintah yang terkesan tak bergeming, masyarakat kini dituntut untuk melakukan perlindungan mandiri. Mengandalkan perlindungan dari negara saat ini dianggap seperti menggantang asap. Mengubah pola konsumsi adalah solusi jangka pendek yang paling masuk akal.
Masyarakat harus mulai mengarusutamakan gaya hidup sehat: aktif bergerak, mengonsumsi serat dari sayur dan buah, serta yang paling utama adalah berhenti merokok. Mencegah kanker bukan hanya soal pengobatan medis, tetapi soal keberanian melawan godaan industri yang merusak kesehatan demi keuntungan semata. (*)
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: