Kemenkes Luncurkan Program Rontgen Gratis untuk Deteksi Dini ke Daerah
Wamenkes Dante Saksono-Kemenkes-
JAKARTA, RADARPENA.CO.ID - Pemerintah melalui Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) mengumumkan akan meluncurkan program rontgen dada gratis sebagai upaya percepatan deteksi dini Tuberkulosis (TBC).
Program ini akan mulai dijalankan pada tahun 2025 sebagai langkah nyata mendukung target eliminasi TBC pada 2030.
Langkah ini diambil menyusul status Indonesia sebagai negara dengan beban TBC tertinggi kedua di dunia, menjadikan deteksi dini sebagai prioritas dalam strategi penanggulangan TBC nasional.
Deteksi Dini Jadi Kunci Eliminasi TBC 2030
Wakil Menteri Kesehatan, Dante Saksono Harbuwono, menyatakan bahwa program ini akan menjadi bagian penting dari strategi penemuan kasus aktif (active case finding).
"Kalau anggaran mencukupi, setiap dari 514 kabupaten/kota akan mendapatkan alat rontgen. Alat ini akan digunakan secara bergilir ke kecamatan-kecamatan dan diberikan gratis untuk masyarakat dalam rangka pemeriksaan kesehatan maupun active case finding TBC,” katanya, dikutip Minggu 21 September 2025.
BACA JUGA:Penting! Ini Durasi Efektif dan Cara Ideal saat Sikat Gigi, Begini Penjelasan Dokter
BACA JUGA:Prakiraan Cuaca Bandar Lampung 22 September 2025: Waspadai Hujan dan Berawan Tebal
Selain rontgen, upaya deteksi dini TBC akan diperkuat dengan pemeriksaan fisik dan formulir skrining gejala. Pemerintah optimistis kombinasi metode ini akan mampu meningkatkan angka penemuan kasus secara signifikan.
Puskesmas Jadi Garda Terdepan, Rontgen Menjangkau Daerah Terpencil
Dalam implementasinya, puskesmas akan menjadi ujung tombak pelaksanaan program ini. Puskesmas bertugas memobilisasi warga di wilayah kerjanya agar mengikuti skrining sesuai jadwal.
Rontgen yang digunakan bersifat portabel, sehingga memungkinkan akses pemeriksaan hingga ke daerah 3T (Terdepan, Terpencil, dan Tertinggal).
???? Target Penurunan Angka Kematian TBC
Menurut data Kemenkes, angka kematian akibat TBC di Indonesia pada 2022 mencapai 386 per 100.000 penduduk.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: