Toxic Positivity: Ketika Kalimat “Semangat Ya!” Justru jadi Racun Mental

Toxic Positivity: Ketika Kalimat “Semangat Ya!” Justru jadi Racun Mental

--

Radarpena.co.id, Lifestyle - Bayangin kamu baru pulang kerja, proyek ditolak bos, isi dompet menipis, dan bahkan dimarahin sama atasan kamu. 

Emosi kamu lagi naik tapi orang rumah malah "semangat ya; yuk senyumm; kamu ikhlasin aja; bersyukur yaa diluar sana masih ada yg lebih parah". 

Bukannya terhibur atau termotivasi, tapi kamu semakin kesal dan jengkel

 

Tenang, reaksi kalian gak lebay kok. 

Tapi apakah kamu tahu? Faktanya ada banyak orang didunia ini pasti pernah melakukannya, termasuk kamu.

Fenomena ini disebut Toxic Positivity, positif yang beracun.

Fenomena ini terjadi ketika seseorang "memaksa" kita untuk melihat sisi baik dari apa yang kita keluhkan

 

Kenapa bisa jadi racun? Pada dasarnya, manusia diciptakan dengan spektrum emosi yang luas. 

Kita bisa merasa bahagia, tetapi kita juga punya hak yang sama untuk merasa marah, kecewa, takut, terluka, atau lelah. 

Semua emosi itu valid dan memiliki fungsinya masing-masing sebagai alarm alami tubuh.

 

Ketika toxic positivity diterapkan, kita dipaksa memakai "topeng kebahagiaan palsu". 

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber:

Berita Terkait