Toxic Positivity: Ketika Kalimat “Semangat Ya!” Justru jadi Racun Mental
--
Argumen utamanya adalah bahwa menekan emosi negatif tidak akan pernah membuat emosi tersebut hilang.
Alih-alih sembuh, emosi yang dikubur hidup-hidup itu justru akan menumpuk di alam bawah sadar dan berubah menjadi bom waktu psikologis yang siap meledak kapan saja dalam bentuk stres berat, kecemasan akut, hingga depresi.
Selain itu, dampak buruk dari fenomena ini adalah munculnya guilt trip atau rasa bersalah pada diri sendiri.
Seseorang yang sedang mengalami musibah akan merasa gagal dan tidak becus mengontrol pikirannya hanya karena mereka merasa sedih.
Meminta seseorang untuk "selalu berpikir positif" saat menghadapi trauma atau kesulitan berat sama saja dengan menyuruh orang yang kakinya patah untuk "mengabaikan rasa sakitnya dan langsung berlari maraton".
Itu adalah hal yang tidak realistis dan tidak berempati
Hidup ini tidak selamanya berisi pelangi dan matahari terbit, kadang awan mendung dan badai harus lewat terlebih dahulu.
Menjadi manusia yang sehat secara mental bukan berarti kita tidak pernah bersedih, melainkan tahu bagaimana cara menerima kesedihan tersebut dengan lapang dada sebelum akhirnya bangkit kembali.
Bagaimana? Pernahkah kalian mengalami
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: