KLB Campak Ancam Anak Indonesia, Ini Seruan Darurat dari IDAI dan Kemenkes
Ilustrasi Campak-Tangkapan Layar-
JAKARTA, RADARPENA.CO.ID - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengumumkan adanya Kejadian Luar Biasa (KLB) campak di sejumlah wilayah, dengan Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, menjadi daerah dengan jumlah suspek tertinggi.
Hingga akhir Agustus 2025, Kemenkes mencatat sebanyak 2.139 suspek campak di Sumenep, yang sebagian besar menyerang anak balita dan usia sekolah.
Angka ini menjadi alarm darurat bagi kesehatan masyarakat.
Data Kemenkes juga menunjukkan bahwa sebagian besar kasus, termasuk 20 kematian yang tercatat di Sumenep, terjadi pada pasien yang tidak pernah diimunisasi.
Kondisi ini mendorong Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) untuk mendesak masyarakat, khususnya orang tua, agar segera melakukan vaksinasi campak.
IDAI: Vaksinasi Kunci Pencegahan
Ketua IDAI, Piprim Basarah Yanuarso, menyatakan keprihatinannya atas meningkatnya kasus campak dan menyalahkan rendahnya cakupan imunisasi sebagai pemicu utama.
"Campak adalah penyakit yang sangat menular, bahkan jauh lebih cepat dari COVID-19. Jika cakupan imunisasi turun, KLB bisa terjadi di mana-mana," ujarnya dalam keterangan yang diterima Disway.id, Kamis 18 September 2025.
BACA JUGA:7 Resep Herbal Rumahan untuk Redakan Migrain dan Sakit Kepala, Mudah Dibuat
Menurut IDAI, target cakupan vaksinasi campak-rubella (MR) harus berada di atas 95% untuk bisa memutus rantai penularan dan membentuk kekebalan komunitas.
Saat ini, cakupan vaksinasi MR1 nasional berada di angka 92% dan MR2 di 82,3% jauh dari target ideal.
IDAI juga menyoroti maraknya hoaks dan disinformasi mengenai vaksin yang beredar di masyarakat, yang menjadi salah satu penyebab utama penolakan imunisasi.
Penyebab dan Komplikasi Serius
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: