Harga BBM Melambung, Pakistan Gratiskan Transportasi Umum di Islamabad Selama 30 Hari!

Harga BBM Melambung, Pakistan Gratiskan Transportasi Umum di Islamabad Selama 30 Hari!

Pakistan gratiskan transportasi umum sebulan karena kenaikan BBM.--

radarpena.co.id - Kabar mengejutkan datang dari ibu kota Pakistan. Pemerintah setempat memutuskan untuk menggratiskan seluruh layanan transportasi umum selama 30 hari ke depan. Langkah ekstrem ini menyusul lonjakan harga bahan bakar minyak (BBM) yang sangat tajam akibat eskalasi konflik di wilayah Timur Tengah.

Pengumuman ini disampaikan langsung oleh Menteri Dalam Negeri Pakistan, Mohsin Naqvi, melalui platform X pada Jumat, 3 April 2026. Ia memastikan bahwa masyarakat Islamabad tidak perlu membayar ongkos angkutan mulai besok.

"Semua transportasi umum di Islamabad akan digratiskan untuk masyarakat selama 30 hari ke depan, mulai besok," kata Menteri Dalam Negeri Mohsin Naqvi di platform X, Jumat (3/4).

Untuk merealisasikan program subsidi ini, kementerian terkait harus merogoh kocek cukup dalam. Naqvi menambahkan kementeriannya akan menanggung biaya 350 juta rupee Pakistan (sekitar Rp21,3 miliar) untuk program tersebut.

Penyebab Harga BBM Naik Drastis

Kebijakan ini menjadi pelipur lara setelah Pakistan menaikkan harga BBM secara signifikan pada Kamis kemarin. Harga bensin per liter melonjak dari 321,17 rupee (sekitar Rp19.600) menjadi 458,4 rupee (sekitar Rp28.000). Sementara itu, harga solar naik lebih gila lagi, dari 335,86 rupee (sekitar Rp20.500) menjadi 520,35 rupee (sekitar Rp31.700).

Penyebab utama kekacauan ekonomi ini adalah gangguan jalur distribusi di Selat Hormuz. Perang antara Amerika Serikat-Israel melawan Iran membuat pengiriman minyak dan gas menurun drastis. Padahal, setiap harinya ada sekitar 20 juta barel minyak yang melintasi jalur krusial tersebut.

Kondisi ini memicu kekhawatiran ekonomi global karena biaya pengiriman dan asuransi ikut membengkak. Dampak krisis energi ini bahkan sudah menjalar ke negara-negara tetangga dan kawasan Asia lainnya.

Dampak Konflik Terhadap Warga Asia

Selain masalah ekonomi, konflik bersenjata ini memakan banyak korban jiwa dari kalangan pekerja migran. Kementerian Luar Negeri Nepal melaporkan 21 pekerjanya terluka sejak perang pecah. Satu orang tewas akibat serangan drone Iran, dan 11 lainnya ditangkap atas tuduhan menyebarkan informasi palsu.

Tragedi juga menimpa sektor maritim. Media publik Thai PBS melaporkan sisa jasad manusia kembali ditemukan di kapal Thailand, Mayuree Naree, yang diserang di Selat Hormuz pada 11 Maret lalu. Kementerian Luar Negeri Thailand menyatakan sisa jasad tersebut akan dikirim untuk identifikasi forensik guna mencari tiga awak yang masih hilang.

Berdasarkan data dari Anadolu, sedikitnya 26 warga dari negara-negara Asia dinyatakan tewas atau hilang. Rinciannya meliputi sembilan orang dari India, empat dari Bangladesh, empat dari Pakistan, serta masing-masing satu dari China, Nepal, dan Filipina. Kabar buruknya, tiga orang dari Indonesia dan tiga dari Thailand juga dilaporkan masih hilang di perairan Timur Tengah.

Respon Negara Tetangga: Kebijakan WFH

Menghadapi krisis energi yang kian nyata, beberapa negara di Asia Tenggara mulai mengambil langkah antisipasi. Di Indonesia, pemerintah sebelumnya meminta aparatur sipil negara bekerja dari rumah (WFH) untuk menghemat penggunaan energi.

Langkah serupa juga diambil oleh Malaysia. Mulai 15 April mendatang, pegawai negeri yang tinggal lebih dari 8 kilometer dari kantor akan bekerja dari rumah selama tiga hari dalam sepekan. Kebijakan ini bertujuan untuk menekan beban pengeluaran masyarakat akibat tingginya biaya mobilitas di tengah situasi dunia yang tidak menentu.

 

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber:

Berita Terkait