Tawaran Baru Teheran: Iran Siap Buka Selat Hormuz, Jika AS Cabut Blokade Ekonomi

Tawaran Baru Teheran: Iran Siap Buka Selat Hormuz, Jika AS Cabut Blokade Ekonomi

Iran tawarkan pembukaan Selat Hormuz dengan syarat AS cabut blokade.--

radarpena.co.id – Kabar terbaru datang dari ketegangan di Timur Tengah. Iran secara resmi menawarkan kerja sama untuk mengakhiri blokade di Selat Hormuz.

Sebagai imbalannya, Teheran meminta Amerika Serikat mencabut blokade ekonomi terhadap mereka serta mengakhiri perang yang tengah berlangsung.

Melansir laporan dari dua pejabat regional pada Senin, 27 April 2026, Teheran juga mengusulkan agar diskusi mengenai program nuklir—yang menjadi isu jauh lebih besar—dilakukan pada tahap selanjutnya. Proposal ini kabarnya sudah sampai ke tangan pemerintah Amerika melalui perantara Pakistan.

Kebuntuan Strategis di Jalur Perdagangan Dunia

Hingga saat ini, AS dan Iran masih terjebak dalam kebuntuan di Selat Hormuz. Jalur air sempit ini merupakan urat nadi ekonomi global karena menjadi rute bagi seperlima perdagangan minyak dan gas dunia.

Blokade AS sendiri bertujuan mencegah Iran menjual minyaknya guna menekan pendapatan negara tersebut. Namun, penutupan selat oleh Iran justru balik menekan Presiden Donald Trump.

Harga minyak dan bensin meroket tajam menjelang pemilihan paruh waktu di AS, yang juga berdampak pada melonjaknya harga pangan dan pupuk secara global.

Namun, Trump tampaknya belum memberikan lampu hijau. Ia menegaskan bahwa tujuan utama perang ini adalah mencegah Iran mengembangkan senjata nuklir. Jika negosiasi nuklir ditunda, perselisihan yang memicu perang sejak 28 Februari lalu dikhawatirkan tetap tidak terselesaikan.

Diplomasi Kilat Menlu Iran ke Rusia

Di tengah gencatan senjata yang rapuh, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, melakukan manuver diplomatik dengan mengunjungi Rusia. IRNA melaporkan Araghchi mendarat di St. Petersburg untuk menemui Presiden Vladimir Putin.

“Ini adalah kesempatan yang baik bagi kami untuk berkonsultasi dengan teman-teman Rusia kami tentang perkembangan yang telah terjadi terkait perang selama periode ini dan apa yang terjadi sekarang,” kata Araghchi dalam wawancara video yang diposting oleh IRNA.

Sebelum ke Rusia, Araghchi telah mengunjungi Pakistan dan Oman, serta berkomunikasi intens dengan Qatar dan Arab Saudi. Iran dikabarkan sedang membujuk Oman untuk mendukung mekanisme pengumpulan tol bagi kapal yang melintasi selat tersebut.

Respon Trump terhadap Proposal "Jauh Lebih Baik"

Presiden Donald Trump sempat membatalkan kunjungan utusannya ke Pakistan akhir pekan lalu. Meski demikian, ia mengakui adanya kemajuan dalam komunikasi tidak langsung ini. Trump menyebut bahwa Iran telah mengirimkan proposal yang "jauh lebih baik", walaupun ia tetap memberikan syarat mutlak.

"Iran tidak akan memiliki senjata nuklir," tegas Trump saat berbicara kepada wartawan pada Sabtu lalu.

Pihak mediator yang dipimpin Pakistan kini bekerja keras menjembatani kesenjangan lebar antara kedua negara. Iran bersikeras blokade AS harus berakhir sebelum pembicaraan baru dimulai. Sementara itu, AS tetap fokus pada penghilangan persediaan uranium yang diperkaya milik Teheran.

Dampak Kemanusiaan dan Ekonomi yang Nyata

Perang ini telah memakan biaya yang sangat mahal. Tercatat setidaknya 3.375 orang tewas di Iran dan 2.509 orang di Lebanon sejak konflik pecah.

Di sisi ekonomi, harga minyak mentah Brent kini diperdagangkan di level US$108 per barel, melonjak hampir 50 persen dibandingkan saat awal perang dimulai.

Keberhasilan negosiasi di Selat Hormuz bukan hanya soal politik dua negara, melainkan solusi bagi stabilitas harga kebutuhan pokok penduduk dunia yang kini tengah tercekik krisis energi.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber:

Berita Terkait