Sidang Tahunan MPR/DPR, Puan Maharani: Kritik Rakyat Bukan Api, Tapi Cahaya dalam Demokrasi

Sidang Tahunan MPR/DPR, Puan Maharani: Kritik Rakyat Bukan Api, Tapi Cahaya dalam Demokrasi

Ketua DPR Puan Maharani pada pidato Sidang Tahunan MPR/DPR/DPD-Fajar-Radarpena.co.id

JAKARTA, RADARPENA.CO.ID – Sidang Tahunan MPR RI bersama DPR RI dan DPD RI serta Sidang Paripurna DPR RI Masa Persidangan I Tahun Sidang 2025–2026 resmi dibuka di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Jumat (15/8/2025).

Dalam forum kenegaraan itu, Ketua DPR RI Puan Maharani menekankan pentingnya ruang kebebasan berpendapat sebagai pilar utama dalam demokrasi Indonesia.

Dalam pidato kenegaraannya, Puan menyampaikan bahwa demokrasi yang sehat bukan hanya memberi ruang untuk pemilu, tetapi juga membuka jalan selebar-lebarnya bagi masyarakat untuk bersuara, termasuk menyampaikan kritik.

“Dalam demokrasi, rakyat harus memiliki ruang yang luas untuk berserikat, berkumpul, menyatakan pendapat, dan menyampaikan kritik,” tegas Puan di hadapan anggota parlemen dan tamu undangan.

BACA JUGA:Mpok Alpa Meninggal Dunia di Usia 38 Tahun Usai Lawan Kanker, Ini Profil dan Perjalanan Kariernya

yoroti bagaimana perkembangan teknologi informasi, khususnya media sosial, telah mengubah wajah demokrasi digital di Indonesia. Menurutnya, masyarakat kini lebih ekspresif dalam menyampaikan kritik melalui berbagai bentuk kreatif, mulai dari sindiran, humor politik, hingga simbol-simbol pop culture.

“Kritik rakyat hadir dalam berbagai bentuk yang kreatif dan memanfaatkan kemajuan teknologi, khususnya media sosial, sebagai corong suara publik,” ujarnya.

Ia menyebut sejumlah istilah yang kerap viral di dunia maya sebagai contoh dari bentuk kritik zaman kini, seperti “kabur aja dulu”, “Indonesia Gelap”, “negara Konoha”, hingga simbol bendera One Piece.

“Fenomena ini menunjukkan bahwa aspirasi dan keresahan rakyat kini disampaikan dengan bahasa zaman mereka sendiri,” tambahnya.

BACA JUGA:Viral! Ikon Tangan JPO Siger Milenial Bandar Lampung Retak, Walkot Pastikan Itu Hoaks

Kritik Bukan Ancaman, Tapi Cerminan Harapan

Lebih jauh, Puan mengajak seluruh pemegang kekuasaan untuk tidak sekadar mendengar kritik, tetapi juga memahami maknanya sebagai bentuk harapan publik. Ia menegaskan bahwa setiap ekspresi yang muncul di ruang publik adalah cermin dari keresahan yang perlu ditanggapi dengan kebijaksanaan.

“Di balik setiap kata ada pesan. Di balik pesan ada keresahan. Dan di balik keresahan itu ada harapan,” ungkap Puan.

Puan juga mengingatkan bahwa kritik yang sehat adalah bagian tak terpisahkan dari demokrasi dan tidak boleh disikapi secara represif atau dijadikan alasan untuk perpecahan.

“Kritik tidak boleh menjadi bara yang membakar persaudaraan. Kritik harus menjadi cahaya yang menerangi jalan kita bersama,” tuturnya.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber:

Berita Terkait