Solusi Permanen Kecelakaan Kereta: Ahli Pustral UGM Usulkan Pembangunan Flyover dan Underpass
Tragedi kecelakaan kereta di Bekasi Timur menelan 16 korban jiwa.--
radarpena.co.id - Insiden memilukan kembali mengguncang dunia transportasi tanah air. Kecelakaan kereta api yang melibatkan Argo Bromo Anggrek, KRL Commuter Line, dan sebuah taksi online terjadi di Stasiun Bekasi Timur, Jawa Barat, pada Senin, 27 April 2026 malam.
Tragedi ini mengakibatkan 106 korban, dengan rincian 90 orang luka-luka dan 16 orang meninggal dunia.
Melihat frekuensi kecelakaan yang terus berulang, Peneliti dan Staf Ahli Pusat Studi Transportasi dan Logistik (PUSTRAL) Universitas Gadjah Mada (UGM), Iwan Puja Riyadi, memberikan analisis mendalam. Menurutnya, peristiwa ini merupakan hasil dari "efek domino" yang bermula dari masalah klasik di perlintasan sebidang.
Analisis Efek Domino: Mengapa Kecelakaan Berantai Terjadi?
Iwan Puja Riyadi menilai kecelakaan maut di Bekasi Timur tidak muncul dari faktor tunggal. Ia menjelaskan bahwa akar permasalahannya dipicu oleh faktor primer di perlintasan.
“Jadi mungkin terdapat beberapa faktor yang mungkin terjadi dan hal ini dipicu oleh faktor primer, yaitu mungkin karena ada taksi mati atau berhenti di perlintasan,” terang Iwan, Kamis, 30 April 2026, dikutip dari website UGM.
Meskipun kereta api masa kini sudah menggunakan sistem blok yang modern, risiko tabrakan tetap mengintai. Kereta api memiliki karakteristik fisik yang tidak memungkinkan untuk berhenti mendadak. Dalam kasus di Bekasi Timur, Iwan menduga adanya keterlambatan informasi yang diterima masinis Argo Bromo Anggrek.
“Jadi bisa juga dimungkinkan karena ada kejadian itu, kereta yang di belakangnya menerima informasinya sudah berdekatan dengan lokasi kejadian,” tambahnya. Akibat jarak yang sudah terlalu dekat, pengereman yang dilakukan tidak mampu menghentikan laju kereta tepat waktu sebelum benturan terjadi.
Faktor Perilaku Masyarakat dan Disiplin Teknologi
Selain kendala teknis dan kepadatan lalu lintas di stasiun, Iwan menyoroti masalah fundamental pada perilaku pengguna jalan. Ia berpendapat bahwa kecanggihan teknologi transportasi tidak akan berarti jika tidak dibarengi dengan perubahan perilaku masyarakat.
Beberapa poin utama yang disoroti meliputi:
-
Rendahnya Kesadaran: Banyak pengendara yang masih nekat menerobos palang pintu kereta api.
-
Ketidakpatuhan terhadap Sistem: Teknologi palang pintu sudah berupaya maksimal, namun seringkali diabaikan oleh warga.
-
Adaptasi Teknologi: Masyarakat perlu mengubah pola pikir saat berhadapan dengan sistem transportasi modern yang serba cepat.
Iwan menegaskan bahwa pengguna jalan harus mematuhi rambu yang ada. Jangan sampai kita justru menuntut sistem untuk menyesuaikan diri dengan ketidakpatuhan manusia.
Solusi Permanen: Bangun Flyover atau Underpass
Sebagai langkah konkret untuk memutus rantai kecelakaan ini, PUSTRAL UGM mengusulkan solusi radikal: peniadaan perlintasan sebidang. Iwan menjelaskan bahwa secara regulasi, pertemuan langsung antara jalan raya dan jalur kereta api sebenarnya dilarang, kecuali pada kondisi topografi yang sangat sulit atau volume kendaraan yang sangat rendah.
“Secara konsep itu tidak boleh ada perlintasan sebidang, kecuali terdapat kondisi tertentu,” tegas Iwan.
Untuk mengatasi hal ini, ia menyarankan pemerintah melakukan perbaikan infrastruktur secara masif melalui:
-
Pembangunan Flyover (Jembatan Layang): Memisahkan arus kendaraan agar melintas di atas jalur kereta.
-
Pembangunan Underpass (Terowongan): Mengalihkan lalu lintas kendaraan ke bawah jalur rel.
Dengan menghilangkan perpotongan arus antara kendaraan bermotor dan kereta api, potensi kecelakaan serupa diharapkan dapat hilang sepenuhnya. Keselamatan nyawa penumpang dan pengguna jalan harus menjadi prioritas utama melalui pembenahan infrastruktur yang lebih aman dan terintegrasi.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: