Darurat Macet! Kendaraan di Indonesia Tembus 172 Juta Unit, AI Bisa Jadi Juru Selamat?

Darurat Macet! Kendaraan di Indonesia Tembus 172 Juta Unit, AI Bisa Jadi Juru Selamat?

Pustral UGM dorong teknologi AI dan LLM untuk atasi kemacetan parah di kota besar Indonesia.--

radarpena.co.id – Pernahkah Anda merasa waktu terbuang sia-sia hanya untuk mengantre di lampu merah? Masalah kemacetan di perkotaan Indonesia memang seolah tidak ada habisnya.

Namun, kabar terbaru dari Pusat Studi Transportasi dan Logistik (Pustral) UGM membawa angin segar. Para ahli kini mendorong penggunaan Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan sebagai solusi cerdas untuk mengurai keruwetan lalu lintas kita.

Dalam sebuah webinar bertajuk “Mengurai Kemacetan Kota dengan Artificial Intelligence" pada Selasa, 28 April 2026, terungkap fakta mencengangkan.

Direktur Jenderal Perhubungan Darat Kemenhub, Dr. Drs. Aan Suhanan, M.Si., menyebutkan bahwa jumlah kendaraan di Indonesia pada tahun 2025 telah mencapai 172,9 juta unit. Dengan pertumbuhan 4,5 persen per tahun, pendekatan konvensional tentu sudah tidak memadai lagi.

Kerugian Ekonomi Capai Puluhan Triliun

Data menunjukkan tingkat kemacetan di lima kota besar Indonesia sudah menyentuh angka 54,9 persen. Bayangkan saja, setiap pengemudi rata-rata membuang waktu hingga 118 jam per tahun hanya di jalanan.

Secara ekonomi, Jakarta sendiri harus menanggung kerugian hingga Rp77 triliun atau sekitar 2,2 persen dari GDP kota tersebut.

“Kondisi ini menunjukkan perlunya transformasi menuju sistem transportasi berbasis data dan terintegrasi,” ucap Aan, dikutip dari website UGM.

Sebagai solusi, pemerintah sebenarnya sudah mulai menerapkan Intelligent Transportation Systems (ITS). Anda mungkin pernah mendengar istilah ATCS (Area Traffic Control System) yang kini sudah terpasang di ratusan simpang.

Selain itu, program Teman Bus yang beroperasi di 14 wilayah metropolitan terbukti efektif. Sebanyak 72% penggunanya adalah mantan pengendara motor yang kini beralih ke transportasi publik.

Peran Besar LLM dalam Smart Mobility

Bukan sekadar alat bantu, AI diprediksi akan menjadi inti dari manajemen lalu lintas masa depan. Pelaksana Harian Kepala Pustral UGM, Prof. Ir. Ikaputra, M.Eng., Ph.D., menjelaskan bahwa teknologi machine learning memungkinkan kita memprediksi kemacetan secara akurat dan real-time.

Senada dengan hal itu, Prof. Dr. Eng. Ir. M. Zudhy Irawan dari UGM menambahkan bahwa Large Language Models (LLM) memiliki kemampuan unik yang bisa memahami bahasa manusia dan mengambil keputusan cerdas.

“LLM mampu membuat keputusan cerdas seperti manusia dalam mengoptimalkan sinyal lalu lintas dan memprediksi arus kendaraan,” ungkap Zudhy.

Zudhy memaparkan empat peran krusial LLM untuk transportasi kita:

  1. Pemroses Informasi: Mengolah data dari kamera, GPS, dan sensor.

  2. Pengkode Pengetahuan: Mengatur aturan main lalu lintas secara digital.

  3. Generator Komponen: Mendukung pengembangan sistem AI yang lebih kompleks.

  4. Fasilitator Keputusan: Memberikan solusi tercepat saat terjadi kepadatan di jalan.

Tantangan di Balik Kecanggihan Teknologi

Meski terdengar sangat canggih, bukan berarti penerapan AI tanpa hambatan. Infrastruktur digital yang belum merata, integrasi data antar lembaga, serta kesiapan sumber daya manusia masih menjadi ganjalan utama. Selain itu, masalah keamanan siber dan privasi data pengguna jalan menjadi hal yang sangat sensitif.

Zudhy mengingatkan bahwa sistem yang sangat bergantung pada data pribadi ini memiliki risiko kebocoran informasi dan bias sistem yang mungkin merugikan kelompok tertentu.

“Teknologi ini memang memberi banyak kemudahan dalam mengelola transportasi, tetapi kita tidak boleh abai terhadap risikonya, terutama terkait akurasi informasi dan keamanan data yang harus benar-benar dijaga,” tuturnya.

Oleh karena itu, transformasi menuju Smart City dan Smart Mobility ini harus mendapat dukungan regulasi yang kuat.

Tanpa tata kelola yang jelas, pemanfaatan kecerdasan buatan justru bisa menghadirkan risiko baru bagi masyarakat. Prioritas utama ke depan adalah menyelaraskan antara kemajuan teknologi dengan perlindungan pengguna jalan.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber:

Berita Terkait