Kapal Tanker Malaysia Lolos Lewati Selat Hormuz, Hasil Diplomasi Intensif

Kapal Tanker Malaysia Lolos Lewati Selat Hormuz, Hasil Diplomasi Intensif

Kapal tanker Jepang Idemitsu Maru sukses lewati Selat Hormuz meski konflik memanas.--

radarpena.co.id - Kapal komersial pertama dari tujuh kapal milik Malaysia yang sempat terdampar di Selat Hormuz akhirnya berhasil melintasi jalur strategis tersebut. Kapal itu kini melanjutkan perjalanan menuju tujuan akhirnya setelah tertahan akibat konflik di kawasan Timur Tengah.

Kementerian Luar Negeri Malaysia mengonfirmasi perkembangan ini dalam pernyataan resmi pada Selasa, 7 April 2026. Keberhasilan tersebut terjadi setelah upaya diplomatik intensif antara para pemimpin dan menteri luar negeri kedua negara yang berlangsung pada Maret lalu.

Meski pemerintah tidak mengungkap tujuan akhir kapal, laporan Reuters yang mengutip data LSEG dan Kpler pada 5 April menyebutkan bahwa kapal tersebut merupakan tanker minyak. Kapal itu membawa minyak mentah Irak dan disewa oleh unit perusahaan energi nasional Malaysia, Petronas.

Kapal tersebut dijadwalkan membongkar muatan di Pengerang, Johor, pada pertengahan April.

Pernyataan Iran dan Dampak Konflik Selat Hormuz

Pernyataan Kementerian Luar Negeri Malaysia muncul sehari setelah kedutaan Iran di Malaysia menyampaikan pesan melalui media sosial X. “Kami telah mengatakan bahwa Republik Islam Iran tidak melupakan teman-temannya,” tulis kedutaan tersebut.

Selat Hormuz, jalur penting yang menghubungkan Teluk Persia dan Teluk Oman, sebelumnya mengalami blokade efektif oleh Iran. Situasi ini terjadi setelah serangan terhadap Iran oleh Amerika Serikat dan Israel sejak 28 Februari.

Sebagai jalur pelayaran vital, sekitar 25 persen perdagangan minyak dunia melewati Selat Hormuz, dengan 80 persen di antaranya menuju Asia. Selain itu, sekitar 19 persen perdagangan gas alam cair global juga transit melalui jalur ini.

Komitmen Malaysia pada Kebebasan Navigasi

Kementerian Luar Negeri Malaysia menegaskan komitmen negara terhadap prinsip kebebasan navigasi dan keamanan pelayaran.

“Malaysia tetap berkomitmen teguh pada prinsip kebebasan navigasi, keselamatan, dan keamanan pelayaran maritim, sesuai dengan hukum internasional,” tambah kementerian tersebut.

“Malaysia juga menegaskan kembali pentingnya dialog berkelanjutan dan keterlibatan diplomatik dalam mengatasi tantangan regional dan menjaga perdamaian dan stabilitas.”

Hingga kini, status enam kapal Malaysia lainnya masih dalam pemantauan, dan pihak CNA telah menghubungi kementerian untuk memperoleh informasi lebih lanjut.

Ketergantungan Energi dan Jaminan Pasokan

Malaysia memiliki ketergantungan tinggi terhadap pasokan energi dari kawasan Teluk. Hampir 70 persen minyak mentah negara tersebut diimpor dari wilayah itu, dengan 40 persen pasokan melewati Selat Hormuz.

Perdana Menteri Anwar Ibrahim sebelumnya telah melakukan pembicaraan telepon dengan Presiden Iran Masoud Pezeshkian pada 26 Maret. Dalam kesempatan itu, Iran memberikan izin kepada kapal-kapal Malaysia untuk melintasi selat tersebut.

Anwar juga menegaskan pentingnya pendekatan diplomatik yang diambil pemerintahnya.

“Apakah menurut Anda mudah untuk membujuk presiden Iran untuk mengizinkan kapal-kapal kita melewati Selat Hormuz? Lihatlah berapa banyak negara yang telah membuat pernyataan setegas Malaysia – kita pantas mendapatkan penghargaan,” katanya pada hari Minggu di konvensi Partai Keadilan Rakyat di Johor.

Proyeksi pasokan energi Tetap Aman

Pemerintah Malaysia memastikan bahwa pasokan energi nasional masih dalam kondisi aman setidaknya hingga Juni mendatang.

“Untuk saat ini, proyeksi untuk Mei dan Juni (menunjukkan) mungkin ada beberapa gangguan harga, tetapi (mengenai) pasokan untuk beberapa bulan ke depan, kami cukup yakin akan hal itu,” kata Anwar dalam dialog di Kuala Lumpur, seperti dilaporkan Bernama.

Ia menjelaskan bahwa stabilitas pasokan didukung oleh jaringan global Petronas, hubungan jangka panjang dengan negara penghasil minyak, produksi LNG domestik, serta impor dari Australia dan Kanada.

Kapal Negara Lain Juga Mulai Melintas

Selain Malaysia, beberapa kapal dari negara lain juga mulai melintasi Selat Hormuz. Kapal tanker dari Thailand, Prancis, Oman, dan Panama termasuk di antaranya.

Iran sebelumnya menyatakan bahwa kapal dari China, Rusia, India, Pakistan, Irak, dan Bangladesh dapat melintas dengan aman. Sementara itu, parlemen Iran sempat mempertimbangkan penerapan “biaya transit” sebesar US$2 juta bagi kapal yang melintas.

Namun, Malaysia memastikan bahwa kapal-kapalnya tidak dikenakan biaya tersebut.

Sebagai perbandingan, sebuah kapal tanker Thailand milik Bangkok Corporation Plc berhasil melintasi selat pada 23 Maret dan dijadwalkan mengirimkan minyak mentah ke Thailand pada awal April, menurut laporan Bloomberg.

 

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber:

Berita Terkait