Guncang Dunia! Jet Siluman F-35 AS Rontok di Tangan Iran? Teknologi Rp1,3 Triliun Ternyata Punya Celah Maut!
Jet tempur F-35 milik AS - Wikipedia - --
Radarpena.co.id - Dunia militer global mendadak geger! Sebuah kabar yang sangat mengejutkan datang dari Timur Tengah. Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) secara sepihak mengklaim telah berhasil menembak jatuh jet tempur siluman F-35 Lightning II milik Amerika Serikat. Jika kabar ini benar, maka reputasi jet tempur paling canggih sejagat raya ini sedang berada di ujung tanduk.
F-35 bukan sembarang pesawat. Burung besi buatan Lockheed Martin ini merupakan simbol supremasi udara AS dengan harga selangit, yakni mencapai Rp1,3 triliun per unitnya. Namun, Iran baru saja merilis video pendek yang mereka sebut sebagai bukti otentik momen serangan terhadap jet generasi kelima tersebut pada Kamis (19/3) pukul 02.50 waktu setempat. Benarkah teknologi "tak terlihat" milik Amerika sudah berhasil dipecahkan?
AS Akui Ada Insiden, Tapi Masih Teka-teki
Menanggapi klaim panas dari Teheran, pihak Amerika Serikat tidak tinggal diam namun memberikan pernyataan yang cukup diplomatis. Juru bicara Komando Pusat AS (CENTCOM), Kapten Tim Hawkins, membenarkan bahwa memang terjadi insiden yang melibatkan jet tempur F-35 tersebut. Menurut Hawkins, pesawat itu terpaksa melakukan pendaratan darurat saat menjalankan misi tempur di wilayah udara dekat Iran.
Meskipun mengonfirmasi pendaratan darurat dan memastikan pilot selamat, pihak AS masih bungkam mengenai penyebab pasti kerusakan pesawat. Investigasi mendalam sedang dilakukan, sementara dunia berspekulasi apakah ini murni gangguan teknis atau memang hasil dari serangan sistem pertahanan udara Iran yang selama ini tidak terdeteksi oleh radar intelijen AS maupun Israel.
“Kami memastikan jet itu terpaksa melakukan pendaratan darurat, namun penyebabnya masih diselidiki. Seluruh awak pesawat dalam kondisi selamat,” ujar Kapten Tim Hawkins dalam pernyataan resminya.
Rahasia di Balik Rontoknya Jet Siluman: Jejak Panas Jadi Celah!
Banyak yang bertanya-tanya, bagaimana mungkin pesawat yang didesain agar 20 hingga 100 kali lebih sulit dideteksi radar ini bisa kena hantam? Jawabannya mengejutkan. Ternyata, kelemahan fatal F-35 bukan pada bentuk badannya, melainkan pada panas yang ia hasilkan. Meskipun desain F-35 memiliki penampang radar (RCS) yang sangat rendah, pesawat ini tetap menghasilkan jejak panas (heat signature) dari mesin supersoniknya.
Analis militer Yue Gang, seorang pensiunan militer China, menduga Iran tidak menggunakan radar konvensional yang memancarkan sinyal radio (yang mudah dideteksi F-35), melainkan menggunakan sistem sensor inframerah pasif. Sistem ini bekerja seperti pemangsa yang mengintai dalam gelap; ia tidak memancarkan sinyal apa pun, sehingga F-35 tidak menyadari bahwa ia sedang dilacak.
“Saya berspekulasi bahwa rudal yang menyerang F-35 tersebut merupakan rudal udara-ke-udara yang dimodifikasi dengan sistem pencari target inframerah,” kata Yue Gang menganalisis teknik serangan tersebut.
Teknologi Rp1,3 Triliun yang Kini Diragukan
Kejadian ini sangat memukul citra F-35 sebagai aset terkuat dalam operasi militer modern. Padahal, jet ini dibekali radar Active Electronically Scanned Array (AESA) dan Electro Optical Targeting System (EOTS) yang memungkinkan pilot "melihat tembus pandang" badan pesawat melalui helm canggih mereka. Harga varian paling ekonomisnya saja, F-35A, dibanderol mulai 82,5 juta dollar AS, sementara varian F-35B dan F-35C jauh lebih mahal.
Jika klaim IRGC terbukti, ini akan menjadi sejarah besar sejak konflik pecah pada 28 Februari lalu. Iran diduga menggunakan rudal modifikasi seperti R-27T buatan Rusia yang memiliki kecepatan Mach 5. Dengan kecepatan setinggi itu, rudal pencari panas tersebut mampu mengejar F-35 dalam sekejap tanpa memberikan kesempatan bagi pilot untuk melakukan manuver menghindar.
Analis Song Zhongping menambahkan bahwa sistem elektro-optik/inframerah (EO/IR) milik Iran sangat sulit dideteksi oleh sensor AS. Hal ini menjelaskan mengapa alat pertahanan tersebut tetap aman dari serangan udara sebelumnya. Kini, dunia militer harus menghitung ulang strategi mereka: apakah era pesawat siluman sudah berakhir di tangan sensor pencari panas? (*)
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: