Iran: Selat Hormuz Terbuka Selama Gencatan Senjata Lebanon!
Italia siapkan 4 kapal tempur untuk bersihkan ranjau di Selat Hormuz.--
radarpena.co.id – Kabar melegakan datang dari salah satu jalur perdagangan energi tersibuk di dunia. Pemerintah Iran secara resmi menyatakan bahwa Selat Hormuz kini "sepenuhnya terbuka" bagi semua kapal komersial. Keputusan ini menyusul adanya kesepakatan gencatan senjata antara Israel dan Lebanon yang mulai berlaku baru-baru ini.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, mengonfirmasi status jalur pelayaran tersebut melalui unggahan di media sosial X. Ia menegaskan bahwa stabilitas jalur ini akan terjaga selama periode gencatan senjata berlangsung.
“Sejalan dengan gencatan senjata di Lebanon, jalur bagi semua kapal komersial melalui Selat Hormuz dinyatakan sepenuhnya terbuka untuk sisa periode gencatan senjata,” kata Araghchi pada Jumat, 17 April 2026.
Aturan Navigasi dan Koordinasi Rute
Meskipun telah dibuka, navigasi kapal yang melintasi selat tersebut tidak dilakukan secara bebas tanpa pengawasan. Jalur kapal akan menggunakan rute terkoordinasi sesuai dengan pengumuman dari Organisasi Pelabuhan dan Maritim Iran.
Namun, ada catatan penting dari pihak keamanan setempat. Seorang pejabat militer senior Iran menegaskan kepada media pemerintah bahwa kelonggaran ini hanya berlaku untuk kapal non-militer. Kapal-kapal tersebut pun wajib mengantongi izin dari Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Iran sebelum melintas.
Reaksi Donald Trump dan Tekanan Blokade AS
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, juga memberikan tanggapan melalui media sosialnya. Ia membenarkan bahwa selat tersebut kini siap untuk bisnis dan lalu lintas penuh. Trump bahkan mengklaim bahwa Iran telah setuju untuk tidak lagi menutup jalur tersebut.
"Selat itu tidak akan lagi digunakan sebagai senjata melawan dunia!" tulis Trump.
Meski demikian, Trump menegaskan bahwa Amerika Serikat belum akan mengendurkan tekanannya. Ia menyatakan bahwa blokade angkatan laut AS terhadap Iran akan "tetap berlaku penuh" hingga tercapai kesepakatan formal untuk mengakhiri perang.
Menurut laporan Alan Fisher dari Al Jazeera di Washington, DC, pemerintahan Trump melihat blokade ini sebagai instrumen vital untuk memastikan Iran tidak memiliki senjata nuklir.
Perselisihan Mengenai "Debu Nuklir"
Dinamika diplomatik semakin memanas ketika Trump menyinggung masalah persediaan uranium Iran. Ia mengklaim bahwa AS akan mendapatkan semua “debu nuklir” atau persediaan uranium yang diperkaya tanpa memberikan kompensasi finansial apa pun kepada Teheran.
Pernyataan ini langsung dibantah oleh media pemerintah Iran, Mizan. Mengutip sumber internal, mereka menegaskan bahwa tidak ada kesepakatan mengenai transfer materi nuklir ke Amerika Serikat.
“Tidak ada negosiasi mengenai ‘transfer uranium yang sangat diperkaya Iran ke Amerika’ yang pernah terjadi, dan tentu saja tidak ada kesepakatan mengenai masalah ini juga,” tulis laporan Mizan.
Dampak Konflik terhadap Pasokan Energi Dunia
Perang yang melibatkan AS-Israel di Iran sejak Februari lalu telah memberikan dampak ekonomi yang luar biasa besar. Konflik ini sempat menyebabkan kemacetan total di Selat Hormuz, yang merupakan jalur bagi seperlima pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) dunia.
Dengan terbukanya kembali jalur ini, pelaku pasar global berharap stabilitas pasokan energi dapat pulih, meskipun ketegangan politik antara Washington dan Teheran masih menunjukkan jarak yang cukup lebar.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: