Trump Klaim Iran Setuju Serahkan Stok Uranium yang Diperkaya, Benarkah?
Donald Trump umumkan Iran setuju serahkan uranium diperkaya.--
radarpena.co.id – Angin segar perdamaian mulai berhembus di kawasan Timur Tengah. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, secara mengejutkan mengumumkan bahwa Iran telah setuju untuk menyerahkan seluruh persediaan uranium yang mereka perkaya.
Langkah besar ini menjadi sinyal kuat bahwa kedua belah pihak hampir mencapai kesepakatan damai permanen untuk mengakhiri konflik yang telah mengguncang kawasan tersebut.
Dalam pernyataannya pada Kamis, 16 April 2026, Trump menyebutkan bahwa negosiasi telah menunjukkan kemajuan signifikan. Sebelumnya, tensi sempat memanas saat Washington mengancam akan melancarkan serangan udara lanjutan dan memperketat blokade angkatan laut jika Teheran menolak poin-poin kesepakatan. Konflik besar ini sendiri diketahui mulai pecah sejak 28 Februari lalu.
"Mereka telah setuju untuk mengembalikan 'debu nuklir' kepada kita," ujar Trump kepada wartawan, merujuk pada istilah pribadinya untuk persediaan uranium yang diperkaya. Amerika Serikat selama ini mencurigai bahan tersebut akan menjadi komponen utama pembuatan senjata nuklir.
Gencatan Senjata Israel dan Lebanon Dimulai
Kabar baik tidak hanya datang dari hubungan Washington-Teheran. Trump juga memastikan bahwa Israel dan Lebanon telah menyepakati Gencatan Senjata selama 10 hari yang berlaku mulai hari Kamis ini. Ia bahkan mengundang para pemimpin kedua negara untuk segera bertemu di Gedung Putih dalam waktu dekat.
Hizbullah melalui anggota parlemennya, Ibrahim al-Moussawi, menegaskan pihaknya akan menghormati jeda pertempuran ini asalkan Israel menghentikan serangan terhadap militan mereka. Respons positif juga datang dari Perdana Menteri kedua negara yang menyambut baik langkah deeskalasi ini.
Di balik layar, Pakistan memainkan peran vital sebagai mediator diplomatik. Televisi pemerintah Iran melaporkan adanya pertemuan antara Kepala Angkatan Darat Pakistan, Asim Munir, dengan Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf. Upaya maraton ini bertujuan menjembatani kebuntuan yang sempat terjadi pada putaran pembicaraan pekan lalu.
Komitmen "Tanpa Senjata Nuklir" Bagi Iran
Meskipun menunjukkan nada optimistis, Donald Trump tetap memegang prinsip keras bahwa setiap kesepakatan harus menjamin Iran tidak akan pernah memiliki senjata nuklir secara permanen.
"Ada peluang yang sangat baik kita akan membuat kesepakatan," tambah Trump yang juga mempertimbangkan untuk terbang langsung ke Pakistan guna menandatangani perjanjian tersebut.
Di sisi lain, perdebatan mengenai teknis program nuklir masih berlangsung. Washington kabarnya meminta Iran menghentikan pengayaan uranium selama 20 tahun, sementara Teheran baru mengajukan tawaran lima tahun.
Kementerian Luar Negeri Iran menegaskan bahwa hak mereka untuk program nuklir sipil tidak dapat diganggu gugat, meski level pengayaannya masih bisa dibicarakan.
Tensi Politik di Dalam Negeri AS
Di tengah kemajuan diplomatik ini, Menteri Pertahanan AS Hegseth tetap memberikan peringatan keras. Ia menegaskan bahwa infrastruktur energi dan listrik Iran akan tetap menjadi target jika Teheran memilih untuk membatalkan komitmennya.
Sementara itu, di Capitol Hill, Dewan Perwakilan Rakyat AS baru saja menolak upaya Partai Demokrat untuk membatasi wewenang perang Trump terhadap Iran. Keputusan ini diambil di tengah kekhawatiran anggota parlemen mengenai biaya perang yang membengkak dan risiko konflik yang meluas setelah enam minggu pertempuran berlangsung.
Duta Besar Iran untuk PBB menyatakan bahwa saat ini Teheran berada dalam posisi "berhati-hati namun optimis". Semua pihak kini menantikan hasil nyata dari meja perundingan yang diharapkan mampu mengakhiri permusuhan panjang ini.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: