Diplomasi Buntu: Krisis Kepercayaan Hambat Negosiasi AS-Iran, Meski Pakistan Turun Tangan
Negosiasi AS-Iran di Islamabad menemui jalan buntu akibat krisis kepercayaan.--
radarpena.co.id – Upaya diplomatik untuk mengakhiri ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kini berada di titik nadir. Meskipun sempat muncul harapan di awal keterlibatan kedua negara, ketidakpercayaan mendalam dan isu-isu fundamental yang belum tuntas membuat kemajuan negosiasi berjalan sangat lambat.
Hampir tiga minggu pasca pertemuan tingkat tinggi di Islamabad, situasi pada Rabu, 29 Maret 2026 menunjukkan tanda-tanda kebuntuan yang nyata. Para analis menilai bahwa hambatan struktural menjadi tembok besar yang sulit ditembus oleh kedua belah pihak.
Skeptisisme di Tengah Ketegangan Selat Hormuz
Presiden AS, Donald Trump, kabarnya meragukan tawaran terbaru dari Teheran. Iran menawarkan pembukaan blokade Selat Hormuz, sebuah jalur maritim strategis, dengan syarat Washington mencabut blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.
Namun, tawaran barter ini belum membuahkan kesepakatan karena AS masih melanjutkan tekanan ekonomi mereka.
Analis pertahanan sekaligus pensiunan Brigadir Pakistan, Masud Ahmed Khan, menjelaskan bahwa pembicaraan ini sebenarnya belum sepenuhnya mati.
"Kedua belah pihak mencari jalan keluar dan mereka menginginkan akhir dari konflik. Tetapi ada defisit kepercayaan yang besar antara kedua negara," ungkap Masud Ahmed Khan.
Ia juga menyoroti bahwa retorika tajam di media sosial semakin memperkeruh suasana. Donald Trump secara konsisten menyerang Iran melalui platform Truth Social, yang menurut para ahli hanya menambah gejolak dalam konflik yang sudah panas tersebut.
Momentum yang Memudar
Pada tahap awal, dialog ini sempat memberikan angin segar. Untuk pertama kalinya dalam 47 tahun, Amerika Serikat dan Iran bersedia duduk bersama secara tatap muka.
Namun, mantan duta besar Pakistan untuk PBB dan AS, Masood Khan, mencatat bahwa momentum tersebut hilang saat pembahasan masuk ke ranah yang lebih sensitif.
Isu-isu kontroversial seperti program nuklir Iran, pencabutan sanksi ekonomi, hingga tata kelola Selat Hormuz menjadi batu sandungan utama. Mantan duta besar Pakistan untuk China, Masood Khalid, menegaskan bahwa sangat sulit bagi kedua negara untuk saling memenuhi tuntutan yang ada.
"Tidak mungkin bagi Iran untuk menyetujui apa yang dituntut AS dan sebaliknya," ujar Masood Khalid.
Meski ia menyebut kompromi seperti kesepakatan nuklir 2015 mungkin saja terjadi, namun saat ini tidak ada pihak yang mau mengalah dalam hal kedaulatan, terutama terkait transfer uranium yang diperkaya.
Peran Strategis Pakistan sebagai Jembatan Diam
Di balik kebuntuan ini, Pakistan muncul sebagai aktor penting yang bekerja dalam senyap. Sebagai negara yang berbagi perbatasan sepanjang 900 km dengan Iran, Pakistan memiliki kepentingan besar untuk mencegah eskalasi konflik agar tidak meluap ke wilayahnya.
Keterlibatan Pakistan lebih didorong oleh kebutuhan keamanan internal daripada ambisi politik global.
Jika konflik di Iran memanas, hal itu akan menambah beban berat bagi aparat keamanan Pakistan yang saat ini masih fokus pada operasi kontra-terorisme di perbatasan barat.
Sejauh ini, peran Islamabad berfokus pada:
-
Menjaga Jalur Komunikasi: Memastikan dialog tetap terbuka meski kesepakatan belum tercapai.
-
Diplomasi Jalur Belakang: Melibatkan pemain regional seperti Tiongkok, Rusia, Qatar, Turki, Arab Saudi, dan Mesir untuk meredam tensi.
-
Fasilitator Dialog: Mengulang memori sejarah saat Pakistan memfasilitasi hubungan AS-Tiongkok pada tahun 1970-an.
Walaupun Pakistan aktif memfasilitasi komunikasi, para analis mengingatkan bahwa Islamabad memiliki keterbatasan. Mereka bisa menyediakan meja perundingan, namun tidak memiliki kekuatan untuk memaksa AS atau Iran memberikan konsesi besar.
Kini, dunia menunggu apakah jalur diplomasi ini akan menemukan titik terang atau justru kembali terperosok dalam konflik yang lebih dalam.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: