Biaya Operasi Militer AS ke Iran Tembus Rp1.000 Triliun!
AS habiskan Rp1.000 triliun untuk melancarkan operasi militer ke Iran. --
radarpena.co.id - Anggaran perang Amerika Serikat di Timur Tengah kembali menjadi sorotan dunia. Menurut data terbaru dari pemantau real-time Iran War Cost Tracker, biaya operasi militer Amerika Serikat terhadap Iran kini telah menyentuh angka fantastis, yakni 61 miliar dolar AS atau setara dengan sekitar Rp1.000 triliun.
Portal pemantau tersebut memperbarui data secara seketika dengan menghitung biaya personel, pengerahan kapal induk ke wilayah konflik, serta pengeluaran logistik lainnya secara mendalam.
Menghitung Beban Anggaran Pentagon
Metodologi penghitungan biaya ini merujuk langsung pada laporan resmi Pentagon kepada Kongres AS. Data tersebut menunjukkan betapa mahalnya biaya yang harus keluar untuk menggerakkan mesin perang Washington.
"Enam hari pertama operasi menelan biaya 11,3 miliar dolar AS (sekitar Rp194 triliun), ditambah pengeluaran lainnya yang akan mencapai 1 miliar dolar AS (sekitar Rp17 triliun) per hari."
Konflik ini memanas sejak 28 Februari lalu, saat Amerika Serikat dan Israel meluncurkan serangan gabungan ke berbagai target di Iran. Serangan tersebut mengakibatkan kerusakan infrastruktur yang parah dan menimbulkan korban dari kalangan sipil.
Update Gencatan Senjata dan Blokade Pelabuhan
Setelah ketegangan memuncak, Washington dan Teheran sebenarnya sempat mengumumkan Gencatan Senjata selama dua pekan pada 7 April. Sayangnya, perundingan lanjutan yang berlangsung di Islamabad, Pakistan, berakhir buntu tanpa membuahkan hasil konkret.
Meski hingga saat ini belum ada pengumuman resmi mengenai kelanjutan kontak senjata, Amerika Serikat mulai mengambil langkah agresif dengan memberlakukan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan utama di Iran.
Pada Selasa (21/4), Presiden Donald Trump memberikan pernyataan terkait arah kebijakan Amerika Serikat selanjutnya.
"AS akan memperpanjang Gencatan Senjata dengan Iran sambil terus melakukan blokade," ujar Trump.
Harapan Damai dalam Waktu Dekat?
Di tengah beban biaya militer yang terus membengkak dan blokade ekonomi yang ketat, sinyal perdamaian mulai muncul dari Gedung Putih. Sehari setelah pernyataannya mengenai blokade, Trump memberikan angin segar mengenai kemungkinan dialog diplomatik.
Ia menyebutkan bahwa pembicaraan damai dengan Iran "mungkin" terjadi dalam waktu dekat. Presiden AS itu memprediksi diskusi tersebut bisa terlaksana dalam rentang waktu 36 hingga 72 jam ke depan.
Dunia kini menanti apakah perundingan tersebut benar-benar akan menghentikan pengeluaran triliunan rupiah per hari ini dan membawa stabilitas kembali ke kawasan tersebut.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: