Iran Perketat Kendali Selat Hormuz, Sita Dua Kapal Asing!
Blokade angkatan laut AS memangkas ekspor minyak Iran hingga 80 persen.--
radarpena.co.id - Situasi di jalur perdagangan minyak dunia kembali memanas. Iran secara mengejutkan menyita dua kapal di Selat Hormuz sebagai langkah memperkuat dominasi mereka di perairan strategis tersebut.
Aksi berani ini muncul tepat setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengumumkan pembatalan serangan militer untuk sementara waktu.
Meski Trump menarik ancamannya, hingga saat ini belum ada tanda-tanda nyata bahwa kedua belah pihak akan kembali ke meja perundingan damai.
Ketidakpastian Gencatan Senjata di Jalur Sutra Minyak
Status gencatan senjata yang sudah berjalan selama dua minggu kini berada di ujung tanduk. Seharusnya, masa damai ini berakhir awal pekan lalu, namun nasibnya masih menggantung tanpa kejelasan.
Secara mengejutkan, pada Selasa (21 April), Donald Trump mengubah haluan secara drastis. Hanya beberapa jam setelah melontarkan ancaman kekerasan, ia menyatakan secara sepihak bahwa AS akan memperpanjang gencatan senjata.
Langkah ini ia ambil demi membahas proposal Iran dalam upaya mengakhiri perang yang telah berkecamuk selama dua bulan terakhir.
Iran Tolak Intimidasi dan Tuntut Pencabutan Blokade
Respons dari Teheran ternyata tidak sejalan dengan harapan Washington. Para pejabat Iran belum memberikan lampu hijau terkait perpanjangan gencatan senjata tersebut.
Mereka justru melayangkan kritik tajam terhadap keputusan Trump yang tetap mempertahankan blokade Angkatan Laut AS di jalur perdagangan laut Iran.
Bagi Iran, blokade tersebut bukan sekadar hambatan ekonomi, melainkan sebuah tindakan perang. Ketua Parlemen Iran sekaligus negosiator utama, Mohammad Baqer Qalibaf, menegaskan bahwa gencatan senjata total hanya akan terjadi jika blokade tersebut berakhir.
"Anda tidak mencapai tujuan Anda melalui agresi militer dan Anda juga tidak akan mencapainya dengan intimidasi. Satu-satunya cara adalah mengakui hak-hak rakyat Iran," tulis Qalibaf melalui media sosialnya.
Qalibaf juga menambahkan bahwa pembukaan kembali Selat Hormuz—yang mengangkut seperlima pasokan minyak dunia sebelum perang—mustahil terwujud selama AS masih melakukan "pelanggaran gencatan senjata yang mencolok".
Gejolak di Internal Pentagon: Menteri Angkatan Laut Dipecat
Di tengah kebuntuan diplomatik ini, internal pertahanan Amerika Serikat justru mengalami guncangan. Menteri Angkatan Laut, John Phelan, resmi meninggalkan jabatannya pada Rabu, 22 April 2026 waktu setempat.
Pemecatan ini menambah daftar panjang perombakan di Pentagon setelah sebelumnya Menteri Pertahanan Pete Hegseth mencopot jenderal tertinggi Angkatan Darat.
Pihak Pentagon menyatakan bahwa Phelan segera meninggalkan pemerintahan, namun mereka enggan membeberkan alasan di balik keputusan mendadak tersebut.
Dampak Global: Ekonomi Dunia di Ambang Stagnasi
Meskipun Trump membatalkan rencana pengeboman infrastruktur sipil Iran yang sempat memicu kekhawatiran pelanggaran hukum humaniter internasional, solusi perdamaian masih jauh dari kata sepakat.
Perang yang bermula dari serangan gabungan AS-Israel pada 28 Februari lalu kini terjebak dalam titik jenuh. Kondisi ini menyebabkan:
-
Penutupan akses Selat Hormuz yang terus berlanjut.
-
Gangguan distribusi energi global.
-
Beban berat pada stabilitas ekonomi di berbagai belahan dunia.
Hingga kini, kedua negara masih berada dalam situasi stagnasi yang mengancam pemulihan ekonomi global, sementara mata dunia terus tertuju pada setiap pergerakan kapal di Selat Hormuz.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: