Gempuran Israel di Lebanon Selatan Tewaskan 24 Warga, IDF Tegaskan Belum Ada Gencatan Senjata
Israel masih terus melancarkan serangan ke wilayah Lebanon yang menimbulkan korban jiwa.--
radarpena.co.id - Situasi di Lebanon selatan semakin mencekam setelah serangan udara Israel menghantam 52 wilayah dalam kurun waktu 24 jam terakhir.
Kementerian Kesehatan Lebanon melaporkan pada Kamis, 9 April 2026, bahwa setidaknya 24 orang tewas akibat operasi militer tersebut.
Meski sempat beredar kabar mengenai kesepakatan damai sementara, fakta di lapangan menunjukkan eskalasi kekerasan yang belum mereda.
Tragedi di Zrariyeh dan Abbassiyeh: Wanita serta Anak-anak Menjadi Korban
Serangan paling mematikan menghujam sebuah bangunan tempat tinggal di kota Zrariyeh. Kantor berita negara Lebanon mengonfirmasi bahwa 10 orang kehilangan nyawa dalam insiden tersebut, termasuk kelompok rentan seperti wanita dan anak-anak.
Kekerasan tidak berhenti di situ. Di wilayah Abbassiyeh, tujuh warga sipil tewas dalam serangan terpisah. Sementara itu, di Jibsheet, tiga orang lainnya mengembuskan napas terakhir dengan lima korban luka-luka yang memerlukan perawatan medis intensif.
Paramedis Tewas dan Fasilitas Umum Hancur di Borj Qallawiyeh
Konflik ini juga menyasar garda terdepan kemanusiaan. Di Borj Qallawiyeh, empat orang paramedis gugur saat menjalankan tugas akibat serangan udara Israel. Selain menelan korban jiwa, gempuran tersebut menghancurkan berbagai infrastruktur sipil, mulai dari rumah warga, toko-toko, masjid, hingga pusat pertahanan sipil.
Militer Israel juga memperluas jangkauan serangannya ke puluhan kota dan desa lainnya, seperti:
-
Bint Jbeil dan Khiam
-
Tyre Debba dan Bazouriyeh
-
Kafra, Harouf, Tebnine, dan Touline
Bahkan di ibu kota, pesawat tempur Israel menyerang wilayah Shiyyah di pinggiran selatan Beirut untuk kedua kalinya dalam waktu singkat. Berdasarkan data Pertahanan Sipil Lebanon, operasi militer yang meluas sejak Rabu ini telah menelan total korban jiwa sebanyak 303 orang dan melukai 1.150 lainnya.
Kontroversi Gencatan Senjata: Klaim Diplomatik vs Fakta Militer
Banyak pihak mempertanyakan status perdamaian di kawasan ini. Sebelumnya, Amerika Serikat dan Iran mengumumkan gencatan senjata selama dua minggu pada hari Selasa lalu melalui mediasi Pakistan. Upaya ini bertujuan menghentikan konflik besar yang pecah sejak 28 Februari antara Washington-Tel Aviv melawan Teheran.
Namun, terdapat perbedaan pandangan yang tajam:
-
Islamabad dan Teheran: Menyatakan bahwa kesepakatan gencatan senjata tersebut mencakup wilayah Lebanon.
-
Washington dan Tel Aviv: Membantah klaim tersebut dan menegaskan operasi militer tetap berjalan.
“Tentara terus beroperasi di sini di Lebanon. Kami berada dalam keadaan perang dan tidak dalam gencatan senjata di front utara,” tegas Kepala Staf Umum Israel, Letnan Jenderal Eyal Zamir, saat mengunjungi pasukan di dekat Bint Jbeil pada hari Jumat.
Posisi Militer Israel terhadap Iran
Meskipun Israel mengeklaim sedang dalam posisi gencatan senjata dengan Iran, Jenderal Zamir memperingatkan bahwa status tersebut bisa berubah sewaktu-waktu.
Ia menyatakan bahwa Militer Israel siap kembali beroperasi di Iran dengan intensitas tinggi kapan pun dibutuhkan.
Hingga saat ini, konflik yang dimulai pada akhir Februari tersebut telah mengakibatkan ribuan orang tewas dan terluka, memperburuk krisis kemanusiaan di Timur Tengah.
Pasukan Israel tetap siaga penuh di perbatasan utara, memastikan bahwa Lebanon selatan masih menjadi zona aktif pertempuran.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: