Hamas Tolak Lucuti Senjata Sebelum Israel Patuhi Gencatan Senjata Gaza
Hamas menolak perlucutan senjata sebelum Israel jalankan penuh gencatan senjata Gaza fase pertama.--
radarpena.co.id - Sayap bersenjata Hamas menegaskan penolakannya terhadap pembahasan perlucutan senjata sebelum Israel menjalankan sepenuhnya fase pertama gencatan senjata Gaza yang dimediasi Amerika Serikat. Pernyataan ini disampaikan pada Minggu, 5 April 2026, di tengah meningkatnya ketegangan terkait implementasi kesepakatan damai.
Juru bicara sayap bersenjata Hamas, Abu Ubaida, menyampaikan sikap tegas tersebut melalui siaran televisi. Ia menilai pembahasan perlucutan senjata saat ini justru berbahaya dan berpotensi memperpanjang penderitaan rakyat Palestina.
Hamas Anggap Tuntutan Perlucutan Senjata Berbahaya
Dalam pernyataannya, Abu Ubaida menyoroti pendekatan yang digunakan dalam isu perlucutan senjata. Ia menegaskan bahwa cara tersebut tidak dapat diterima oleh pihaknya.
Ia mengatakan, mengangkat isu senjata “dengan cara yang kasar” tidak akan diterima.
Lebih lanjut, ia menilai dorongan untuk melucuti senjata Hamas sebagai langkah yang berisiko besar bagi masa depan Palestina.
"Apa yang coba didorong musuh hari ini terhadap perlawanan Palestina, melalui mediator saudara kita, sangat berbahaya," katanya.
Ia juga menambahkan bahwa tuntutan tersebut memiliki konsekuensi serius.
Ia mengatakan tuntutan perlucutan senjata itu "tidak lain hanyalah upaya terang-terangan untuk melanjutkan genosida terhadap rakyat kami, sesuatu yang tidak akan kami terima dalam keadaan apa pun."
Rencana Perdamaian AS Jadi Sorotan
Isu perlucutan senjata Hamas menjadi hambatan utama dalam pembicaraan implementasi rencana "Dewan Perdamaian" yang diusulkan Presiden AS Donald Trump. Rencana ini bertujuan memperkuat gencatan senjata yang menghentikan pertempuran skala penuh selama dua tahun pada Oktober lalu.
Namun, Hamas tetap pada posisinya. Kelompok tersebut sebelumnya telah menyampaikan kepada mediator bahwa mereka tidak akan membahas perlucutan senjata tanpa jaminan bahwa Israel sepenuhnya meninggalkan Gaza. Informasi ini diungkap oleh tiga sumber kepada Reuters pekan lalu.
Saling Tuduh Pelanggaran Gencatan Senjata
Sejak gencatan senjata diberlakukan, Hamas dan Israel terus saling menuduh melanggar kesepakatan. Situasi ini membuat proses menuju fase berikutnya menjadi semakin kompleks.
Abu Ubaida pun mendesak para mediator untuk mengambil langkah tegas. Ia meminta agar Israel terlebih dahulu memenuhi komitmennya dalam fase pertama sebelum pembicaraan lanjutan dilakukan.
"Musuh adalah pihak yang merusak perjanjian," katanya.
Konflik Gaza Berawal dari Serangan Lintas Batas
Perang Hamas-Israel di Gaza bermula setelah para pejuang yang dipimpin Hamas melancarkan serangan lintas batas ke wilayah selatan Israel. Serangan tersebut memicu respons militer besar-besaran dari Israel.
Akibatnya, sebagian besar penduduk Gaza mengungsi dan wilayah tersebut mengalami kerusakan luas hingga menjadi reruntuhan.
Hingga kini, belum ada komentar langsung dari pihak Israel terkait pernyataan terbaru Abu Ubaida. Sementara itu, pejabat politik Hamas juga belum memberikan tanggapan tambahan atas isu ini.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: