IRGC Klaim Tembak Jatuh F-35 Kedua dalam 12 Jam! Amerika Bungkam
Militer Iran mengaku kembali berhasil menembak jatuh F-35 milik AS.--
radarpena.co.id - Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) mengatakan telah menembak jatuh jet tempur F-35 canggih kedua milik Amerika Serikat di langit Iran tengah.
IRGC mengumumkan pada Jumat, 3 April 2026, bahwa jet tempur F-35 kedua dihancurkan di langit Iran tengah oleh sistem pertahanan canggih baru Angkatan Udara IRGC.
Dikatakan bahwa jet tempur yang nahas itu milik skuadron Lakenheath. IRGC mencatat bahwa jet tempur itu telah hancur total dan jatuh.
"Dalam dua belas jam terakhir, ini adalah jet tempur kedua yang telah dihancurkan oleh pertahanan udara IRGC, dan karena hancurnya pesawat, tidak ada informasi tentang nasib pilot," sebut pernyataan IRGC, dikutip Tasnim News.
IRGC Klaim Serangan Rudal Hantam Lokasi Personel AS di UEA
Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) mengumumkan bahwa pasukan angkatan lautnya melakukan gelombang serangan rudal dan drone baru terhadap target militer yang terkait dengan AS di Teluk Persia selatan, termasuk lokasi yang menampung insinyur dan pilot Amerika di UEA.
Dalam sebuah pernyataan, kantor humas IRGC menjelaskan bahwa sejak Jumat pagi, 3 April, Angkatan Laut IRGC—sebagai bagian dari gelombang ke-91 Operasi True Promise 4—melancarkan serangan besar-besaran. Serangan tersebut menggunakan sejumlah besar rudal balistik dan jelajah Qadir serta drone bunuh diri yang diarahkan ke target militer dan infrastruktur milik pasukan Amerika dan Zionis di negara-negara Teluk Persia selatan.
Menurut pernyataan tersebut, kelompok serang kapal induk AS Abraham Lincoln di Samudra Hindia utara juga menjadi sasaran empat rudal jelajah Qadr-380.
Selain itu, pada fase kedua operasi, sebuah “titik pertemuan rahasia” para teknisi penerbangan dan pilot jet tempur Amerika yang terletak di luar salah satu pangkalan musuh di Uni Emirat Arab dilaporkan terkena hantaman rudal balistik secara tepat sasaran. Laporan lapangan serta pergerakan ambulans yang padat disebut menunjukkan jumlah korban yang tinggi.
IRGC juga menyatakan bahwa serangan besar lainnya menargetkan unit drone AS “MQ1” di pangkalan Ali Al Salem.
Lebih lanjut, pernyataan tersebut menegaskan bahwa seluruh lalu lintas di Selat Hormuz berada dalam pemantauan sistem angkatan laut IRGC. Mereka juga memperingatkan bahwa setiap bentuk pergerakan yang dianggap permusuhan, sekecil apa pun, akan langsung mendapat respons tegas.
Pernyataan itu ditutup dengan menegaskan bahwa setiap ketidakamanan yang memengaruhi navigasi di jalur air strategis tersebut merupakan akibat dari "agresi kriminal dan teroris" Amerika Serikat.
Latar Belakang Eskalasi Konflik
AS dan rezim Israel melancarkan kampanye militer skala besar tanpa provokasi terhadap Iran setelah pembunuhan Pemimpin Revolusi Islam Ayatollah Seyed Ali Khamenei, bersama dengan beberapa komandan militer senior dan warga sipil pada 28 Februari.
Serangan tersebut mencakup serangan udara luas yang menyasar lokasi militer dan sipil di berbagai wilayah Iran. Akibatnya, banyak korban jiwa berjatuhan dan kerusakan infrastruktur terjadi secara meluas.
Sebagai respons, Angkatan Bersenjata Iran melakukan operasi balasan dengan menargetkan posisi Amerika dan Israel, baik di wilayah pendudukan maupun pangkalan regional. Operasi tersebut melibatkan gelombang serangan rudal dan drone yang terus berlanjut.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: