Tarif Trump Bikin Panik, Komoditas Minyak Sawit Kini jadi Sorotan
Ilustrasi perkebunan kelapa sawit-Istimewa -
JAKARTA, RADARPENA.CO.ID - Di tengah kekhawatiran global terhadap kebijakan tarif dagang mantan Presiden AS Donald Trump yang mencapai 32%, Indonesia mengandalkan komoditas minyak sawit sebagai senjata utama.
Data United States Department of Agriculture (USDA) menunjukkan nilai ekspor minyak sawit Indonesia ke AS mencapai USD 2,13 miliar, dengan pangsa pasar 70% dari total impor minyak tropis AS.
Tidak hanya itu, Indonesia sendiri hingga saat ini masih merupakan pemegang terbesar dari total impor minyak tropis, yaitu sebesar 70 persen.
Dengan memanfaatkan besarnya potensi komoditas sawit di Indonesia, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) saat ini juga terus meningkatkan nilai tambah dan daya saing industri kelapa sawit di dalam negeri.
Salah satu langkah yang dilakukan Kemenperin adalah dengan dalam rangka meningkatkan hilirisasi produk turunan kelapa sawit adalah memfasilitasi penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) antara PalmCo/PTPN IV dengan Koperasi Produsen Gerak Nusantara (KPGN).
BACA JUGA:Jepang Buka 148 Ribu Lowongan untuk Indonesia, Jakarta Siapkan 10 Ribu Tenaga Kerja
BACA JUGA:Dokter Kandungan Cabul Garut Muhammad Syafril Firdaus, Ternyata Alumni Unpad
Kebijakan hilirisasi ini sendiri juga diarahkan untuk menumbuhkan industri dalam lima jalur utama, yaitu produksi minyak goreng sawit, oleofood (lemak pangan), oleochemicals, fitonutrient, dan biomassa atau biomaterial.
“Langkah tersebut akan membantu petani dalam mengelola usaha mereka secara lebih efektif. Asalkan didukung oleh pelatihan dan pendampingan dari pengrajin berpengalaman. Ini merupakan langkah penting untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi,” jelas Direktur Jenderal Industri Agro Kemenperin, Putu Juli Ardika, kepada Disway pada Selasa 15 April 2025.
Sebelumnya, Putu juga mengungkapkan bahwa potensi pengembangan industri hilir kelapa sawit nasional masih sangat terbuka, khususnya pada pemanfaatan biomassa sawit yang selama ini masih belum optimal.
Menurutnya, hal tersebut terjadi karena hilirisasi masih bertumpu pada pengolahan produk minyak sawit sehingga laju hilirisasi masih bergantung pada ketersediaan bahan baku minyak sawit mentah.
Di sisi lain, pasokan minyak sawit mentah dari sektor perkebunan masih menghadapi tantangan, antara lain penurunan produktivitas akibat penyakit tanaman, kendala agroklimat dan perubahan iklim, penerapan gap yang belum optimal, dan luas perkebunan yang masuk usia tua sehingga perlu di-replanting.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: