Gawat! Trump Tekan Tarif Dagang, Bos Apindo Buka-Bukaan Soal Nasib Industri RI di Tengah Agreement on Reciproc

Gawat! Trump Tekan Tarif Dagang, Bos Apindo Buka-Bukaan Soal Nasib Industri RI di Tengah Agreement on Reciproc

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Kamdani - Bianca Khairunnisa - --

Radarpena.co.id - Dunia usaha nasional sedang dalam mode waspada tingkat tinggi! Amerika Serikat (AS) baru saja mengajukan persyaratan tarif dagang resiprokal atau yang kita kenal sebagai Agreement on Reciprocal Trade (ART). Kabar ini sontak memicu diskusi panas di kalangan pebisnis tanah air. Apakah ini peluang emas untuk ekspor kita, atau justru ancaman bagi produk lokal yang bisa tergilas barang impor dari Negeri Paman Sam?

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Shinta Kamdani, akhirnya angkat bicara menanggapi polemik ini. Shinta menegaskan bahwa kesepakatan raksasa ini tidak boleh asal tanda tangan. Pemerintah harus merancang perjanjian ini dengan mempertimbangkan kondisi domestik Indonesia secara matang. Kita tidak ingin sekadar membuka pasar, tapi justru membunuh industri dalam negeri sendiri.

Strategi Impor Bijak: Hanya untuk Energi dan Pangan Strategis

Shinta Kamdani menilai setiap komitmen pembelian tambahan produk dari Amerika Serikat harus punya arah yang jelas. Industri nasional menyarankan agar komoditas yang masuk nantinya hanyalah barang yang memang belum bisa kita produksi sendiri. Hal ini sangat krusial untuk menjaga kedaulatan industri hulu kita.

Fokusnya adalah pada sektor-sektor kritis seperti energi tertentu dan bahan pangan strategis. "Artinya, pendekatan yang diambil bukan sekadar membuka pasar, tetapi membangun keseimbangan perdagangan dengan tetap mempertimbangkan kondisi dan kebutuhan industri nasional," jelas Shinta kepada tim redaksi pada Selasa (24/02/2026).

Peluang Emas! Indonesia Bisa Salip Negara Tetangga Soal Ekspor

Meski terlihat menantang, konfigurasi tarif yang sedang dinegosiasikan ini sebenarnya menempatkan Indonesia di posisi "pole position". Mengapa? Karena ada skema pengecualian tarif alias tarif 0 persen untuk deretan produk unggulan Indonesia. Produk seperti kopi, kakao, rempah-rempah, karet, hingga komponen pesawat terbang bakal punya harga yang jauh lebih kompetitif di pasar AS.

Kondisi ini membuat Indonesia jauh lebih unggul dibandingkan negara-negara pengekspor serupa di kawasan Asia Tenggara. "Kita menjadi lebih kompetitif daripada negara pengekspor serupa di kawasan. Dalam konteks realignment rantai pasok global, kondisi ini dapat mendorong pengalihan order maupun relokasi produksi ke Indonesia, selama didukung oleh iklim usaha yang kondusif," tambah Shinta dengan nada optimis.

Senjata Rahasia RI: Dari Council of Trade Hingga Instrumen Anti-Dumping

Tenang saja, kesepakatan ini bukan berarti Indonesia melepaskan pertahanan begitu saja. Ada mekanisme "pagar pengaman" berupa pembentukan Council of Trade and Investment. Lembaga ini berfungsi sebagai wadah dialog formal jika tiba-tiba terjadi lonjakan impor yang tidak wajar dari Amerika Serikat.

Selain itu, Indonesia tetap memegang kartu as berupa instrumen trade remedies yang sesuai dengan standar WTO. Mulai dari kebijakan anti-dumping, countervailing measures, hingga safeguards siap diluncurkan jika industri lokal terancam. Namun, Shinta mengingatkan bahwa tarif bukan segalanya. Efisiensi logistik dan kepastian regulasi di dalam negeri tetap menjadi Pekerjaan Rumah (PR) besar yang harus segera tuntas.

Apindo Pastikan Jaga Nasib Jutaan Tenaga Kerja

Keberhasilan jangka panjang kesepakatan dagang ini harus berjalan paralel dengan penguatan industri hulu dan kemudahan berusaha di tanah air. Apindo sendiri mengaku sudah membersamai Pemerintah RI sejak awal proses negosiasi tarif resiprokal ini untuk memastikan suara pengusaha terdengar nyata.

"Untuk itu, APINDO akan terus membersamai pemerintah dalam proses ini, memberikan masukan berbasis data dan pengalaman industri, serta memastikan bahwa kepentingan industri nasional serta stabilitas jutaan tenaga kerja tetap menjadi prioritas utama," tutup Shinta Kamdani.

Langkah besar sudah diambil, kini saatnya kita melihat bagaimana eksekusi di lapangan. Apakah industri kita siap menyambut tantangan ini? Tetap pantau terus perkembangannya karena kesepakatan ini akan menentukan arah ekonomi kita di tahun-tahun mendatang. - Bianca Khairunnisa/Disway

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: