Rupiah Melemah Awal 2026, Kadin Dorong Perluasan Pasar Global demi Jaga Industri
Ketua Umum Kadin Indonesia, Anindya Novyan Bakrie.--
Radarpena.co.id – Memasuki awal tahun 2026, nilai tukar rupiah justru kembali berada di bawah tekanan terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Mata uang Garuda tercatat melemah 28 poin atau sekitar 0,17 persen ke level Rp16.847 per dolar AS, dibandingkan posisi sebelumnya di Rp16.819 per dolar AS.
Kondisi ini memunculkan kekhawatiran di kalangan pelaku industri, khususnya sektor manufaktur. Pelemahan rupiah dinilai berpotensi meningkatkan biaya produksi, terutama bagi industri yang masih sangat bergantung pada bahan baku dan komponen impor.
Menanggapi situasi tersebut, Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia menegaskan komitmennya untuk mendorong perluasan akses pasar Indonesia di tingkat global sebagai langkah strategis menghadapi tekanan nilai tukar.
Ketua Umum Kadin Indonesia, Anindya Novyan Bakrie, menyampaikan bahwa penguatan kerja sama, termasuk melalui investasi dan kolaborasi lintas negara, terus diupayakan sebagai strategi utama organisasi tersebut.
"Selain kerjasama investasi, kolaborasi mungkin bisa dijajaki, karena akan membuka pasar yang lebih luas lagi. Jadi inti-intinya seperti itu," ucap Anindya kepada Disway dan awak media lainnya di kantor Kementerian Perdagangan (Kemendag), Jakarta Pusat, Senin (12/1/2016).
Ia berharap langkah kolaboratif ini mampu memperluas peluang pasar bagi produk nasional sekaligus mendorong peningkatan konsumsi di dalam negeri.
"Kita akan follow up hal-hal itu semua, dan saya rasa sih memang ya untuk meningkatkan ketumbuhan Indonesia. Apalagi selain daripada belanja modal pemerintah yang kita harapkan akan terus bekembang, konsumsi domestik, ya selebihnya yalah pedagangan dan juga investasi," tutur Anindya.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa dunia usaha menginginkan bukan hanya terbukanya akses pasar, tetapi juga dukungan kebijakan yang kondusif.
"Nah dari Kadin dan Dunia Usaha, anggota-anggota kami baik Kadin Provinsi maupun di asosiasi, tentu menginginkan peluang-peluang bukan hanya pasar dibuka, tapi juga regulasi dan insensif diberikan supaya pedagangan ini bisa berlangsung baik," tambahnya.
Sementara itu, Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) menilai pelemahnya rupiah tidak terlepas dari tingginya ketergantungan Indonesia terhadap dolar AS yang sudah berlangsung lama. Ketergantungan tersebut terutama terlihat pada pembiayaan utang luar negeri perusahaan.
Ketua Apindo Jawa Tengah, Frans Kongi, menyoroti banyaknya perusahaan nasional yang melakukan ekspansi usaha dengan pembiayaan dalam denominasi dolar AS.
"Banyak perusahaan dalam negeri yang telah mengajukan hutang untuk ekspansi bisnis dalam bentuk dolar. Kalau dolar tidak bisa dikendalikan, sedangkan industri pinjamannya banyak pakai dolar, bisa-bisa kita tutup dan stop produksi," katanya.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: