Pemerintah Pastikan Ekonomi RI Tetap Stabil di Tengah Perang Timur Tengah

Pemerintah Pastikan Ekonomi RI Tetap Stabil di Tengah Perang Timur Tengah

Ilustrasi kota Jakarta-Unsplash/ Muhammad Syafi Al - adam-

Radarpena.co.id - Pemerintah menegaskan kondisi perekonomian Indonesia masih berada dalam jalur yang stabil meski menghadapi tekanan global akibat eskalasi geopolitik dan gejolak di pasar keuangan internasional.

Juru Bicara Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Haryo Limanseto menyampaikan bahwa pemerintah terbuka terhadap berbagai pandangan publik yang berkembang, sekaligus menjadikannya sebagai bahan pertimbangan dalam merumuskan kebijakan ekonomi.

“Kami menghormati berbagai pandangan dari masyarakat, perlu kami tambahkan bahwa pemerintah memastikan bahwa kondisi fundamental ekonomi Indonesia saat ini tetap kuat dan resilian, ditopang oleh beberapa faktor utama,” katanya.

Haryo menegaskan, kondisi makroekonomi nasional hingga saat ini masih terjaga dengan baik. Hal tersebut tercermin dari pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2025 yang mencapai 5,11 persen secara tahunan (year on year), angka yang dinilai cukup tinggi dibandingkan sejumlah negara lain.

Di sisi lain, tingkat inflasi juga tetap terkendali dan berada dalam kisaran target yang ditetapkan, yakni 2,5 persen dengan toleransi plus minus 1 persen. Pemerintah terus menjaga stabilitas ini melalui berbagai kebijakan pengendalian inflasi dan upaya menjaga harga tetap stabil.

Dari sisi permintaan domestik, konsumsi masyarakat masih menjadi pendorong utama pertumbuhan ekonomi. Hal ini diperkuat oleh berbagai stimulus fiskal serta program bantuan sosial yang terus digulirkan pemerintah.

Sementara itu, sektor riil juga menunjukkan kinerja positif. Aktivitas industri manufaktur tercatat berada pada fase ekspansi dengan nilai Purchasing Managers Index (PMI) sebesar 53,8, yang sekaligus menjadi level tertinggi dalam dua tahun terakhir.

Ketahanan fiskal negara juga dinilai tetap solid. Hingga Februari 2026, penerimaan pajak tercatat tumbuh 30,4 persen secara tahunan. Peningkatan ini didorong oleh reformasi perpajakan serta penerapan digitalisasi melalui sistem Coretax yang memperluas basis penerimaan sekaligus meningkatkan kepatuhan wajib pajak.

Tak hanya itu, pemerintah juga menyoroti penguatan ketahanan di sektor pangan dan energi. Indonesia disebut telah mencapai swasembada pada sejumlah komoditas utama, serta mencatat surplus energi melalui program biodiesel.

Kondisi tersebut dinilai menjadi bantalan penting bagi perekonomian nasional dalam menghadapi berbagai tekanan global, termasuk dampak konflik geopolitik.

Pemerintah juga terus mengakselerasi transformasi ekonomi melalui hilirisasi industri, peningkatan investasi, dan percepatan digitalisasi. Pengembangan kendaraan listrik serta energi baru terbarukan menjadi bagian dari strategi jangka panjang untuk menciptakan sumber pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

Ke depan, pemerintah optimistis pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 dapat mencapai sekitar 5,4 persen, dengan tetap menjaga stabilitas serta melanjutkan reformasi struktural.

Selain itu, pemerintah akan terus mengedepankan prinsip kehati-hatian dalam merespons dinamika global agar daya tahan ekonomi nasional tetap terjaga.

“Kami akan terus menjaga stabilitas dan memastikan kebijakan yang diambil adaptif terhadap perkembangan global, sehingga perekonomian nasional tetap tumbuh positif dan berkelanjutan,” kata Haryo. *

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: