Kenapa Taksi Listrik Bisa Mogok di Atas Rel? Ini Penjelasan Pakar ITB

Kenapa Taksi Listrik Bisa Mogok di Atas Rel? Ini Penjelasan Pakar ITB

Sopir taksi maut di Bekasi ternyata baru kerja 3 hari & minim pelatihan!--

 

radarpena.co.id – Tragedi kecelakaan yang melibatkan taksi listrik dan kereta api di perlintasan dekat Bulak Kapal, Stasiun Bekasi Timur, pada Senin, 27 April 2026, menyisakan tanya besar di benak publik.

Mengapa kendaraan listrik tersebut bisa terhenti mendadak atau mogok tepat di tengah rel?

Insiden maut ini bermula saat sebuah taksi listrik menemper KRL Commuter Line, yang kemudian memicu kecelakaan beruntun dengan Kereta Api Argo Bromo.

Peristiwa memilukan ini merenggut 16 nyawa dan menyebabkan sejumlah orang luka-luka.

Pakar otomotif dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Yannes Martinus Pasaribu, pun memaparkan berbagai kemungkinan teknis yang memicu kegagalan sistem pada mobil listrik (EV) tersebut.

Masalah Baterai Tegangan Rendah dan Sistem Komputer

Menurut Yannes, salah satu pemicu utama bisa jadi berasal dari baterai bertegangan rendah atau aki 12V. Meskipun mobil listrik memiliki baterai besar untuk penggerak, aki 12V tetap krusial sebagai sumber daya sistem otak kendaraan.

“Secara teknis, berbagai kemungkinan yang bisa terjadi adalah baterai low voltage 12V yang jadi sumber daya awal untuk menghidupkan sistem komputer, relay dan kontaktor, sistem keselamatan, sensor, dan modul kontrol, proses booting saat mobil dinyalakan, sehingga saat tegangannya turun terlalu rendah maka seluruh sistem yang disebutkan akan terdampak," kata Yannes kepada Antara, Rabu, 29 April 2026.

Dampak Getaran Rel terhadap Sensor dan ADAS

Selain masalah kelistrikan, Yannes menyoroti efek guncangan saat taksi listrik tersebut melintasi rel kereta api. Getaran keras secara tiba-tiba dapat mengganggu sambungan fisik komponen di dalam mesin.

“Getaran panjang saat berkendara pada sistem sensor dan ADAS yang dapat mengendurkan berbagai bagian dan saat ditambahkan dengan getaran keras berpotensi menyebabkan berbagai sambungan atau komponen terlepas dan berujung pada berhentinya motor atau turunnya efisiensi mekanisme transmisi penggerak, sehingga EV berhenti," jelas Yannes.

Sistem Keamanan Cerdas yang Malah "Mengunci"

kendaraan listrik modern umumnya memiliki fitur keamanan otomatis yang sangat sensitif. Ironisnya, fitur ini bisa menjadi bumerang jika sistem mendeteksi adanya anomali atau gangguan saat melintasi area yang berisiko.

Yannes menjelaskan bahwa fitur seperti steering lock atau immobilizer bisa aktif secara tiba-tiba jika sistem mendeteksi keganjilan.

“Ketika sistem mendeteksi anomali, fitur keamanan seperti steering lock atau immobilizer bisa aktif secara otomatis dan mengunci seluruh sistem kendaraan," tambahnya.

Kegagalan Komunikasi pada BMS dan Komponen Utama

Potensi gangguan lain terletak pada Battery Management System (BMS). Jika terjadi gangguan komunikasi pada BMS, sistem bisa salah membaca arus listrik atau estimasi daya (SOC). Hal ini bisa menyebabkan keputusan sistem yang fatal, seperti mematikan mesin secara mendadak.

Tak hanya itu, kegagalan pada komponen utama seperti inverter atau konverter DC-DC juga dapat mengakibatkan hilangnya daya secara tiba-tiba atau kegagalan sistem total bagi pengguna kendaraan listrik.

Meskipun analisis teknis ini memberikan gambaran jelas mengenai kerentanan sistem EV, Yannes menekankan bahwa semua poin tersebut masih bersifat dugaan awal. Investigasi lebih lanjut tetap diperlukan untuk memastikan penyebab pasti mengapa taksi tersebut berhenti di tengah jalur kereta yang sibuk.

Tragedi di Stasiun Bekasi Timur ini menjadi pengingat penting bagi para produsen dan pengguna transportasi berbasis listrik untuk lebih memperhatikan aspek keamanan sistem cadangan (redundancy) pada kendaraan, terutama saat menghadapi medan jalan yang menantang.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: antara

Berita Terkait