Darurat Lahan Sampah: Teknologi 'Waste to Energy' Jadi Harga Mati bagi Kota Besar
Darurat Lahan Sampah: Teknologi 'Waste to Energy' Jadi Harga Mati bagi Kota Besar--Ari Nurcahyo
radarpena.id - Ikatan Ahli Teknik Penyehatan dan Teknik Lingkungan Indonesia (IATPI) menegaskan bahwa teknologi waste to energy atau pengolahan sampah menjadi energi bukan lagi sekadar pilihan, melainkan keharusan mutlak.
Hal ini sebabkan wilayah metropolitan di Indonesia kini tengah terkepung krisis sampah yang kian mengkhawatirkan. Kelangkaan lahan penimbunan konvensional serta membengkaknya biaya pengelolaan memaksa pemerintah untuk segera beralih ke solusi yang lebih radikal.
Anggota Dewan Pakar IATPI, Nofrizal Tahar, menekankan bahwa pemerintah tidak boleh lagi menunda penanganan masalah ini. Krisis lahan di kota-kota besar menjadi alarm keras yang menuntut inovasi teknologi segera.
"Masalah sampah tidak bisa menunggu," tegas Nofrizal usai menghadiri Rapat Pengurus IATPI di Jakarta, Kamis 15 Januari 2026.
BACA JUGA:PHK Meledak di Jawa Barat! Hampir 19 Ribu Pekerja Tumbang, Industri Garmen Paling Parah
BACA JUGA:Proyek IKN Makin Kencang! Duet Basuki-Dody Gaspol Tol dan Hunian Rampung Tepat Waktu
Nofrizal menjelaskan bahwa transisi dari metode penimbunan (landfill) menuju pengolahan sampah menjadi sumber energi merupakan kunci keberlanjutan lingkungan. Meskipun edukasi perubahan perilaku masyarakat di tingkat hulu tetap krusial, strategi tersebut tidak akan memberikan hasil maksimal tanpa dukungan teknologi canggih di tingkat hilir.
Indonesia sebenarnya telah memiliki bukti sukses pemanfaatan teknologi ini. Kota Surabaya telah mengoperasikan fasilitas waste to energy secara efektif sejak 2021. Kota Pahlawan tersebut membuktikan kemampuannya mengolah sekitar 1.000 ton sampah domestik setiap harinya menjadi pasokan listrik sebesar 6 hingga 7 megawatt.
Keberhasilan Surabaya menjadi inspirasi sekaligus bukti konkret bahwa teknologi pengolahan sampah menjadi sumber energi terbarukan sangat mungkin terimplementasi secara masif di seluruh penjuru nusantara. Selain Surabaya, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama pemerintah daerah juga telah menguji coba pilot plant di Bantar Gebang, Jakarta, dengan kapasitas pengolahan 100 ton sampah per hari.
Meski teknologi sudah tersedia, IATPI memberikan catatan kritis agar investasi besar ini tidak berakhir sia-sia. Mereka menyoroti pentingnya kesiapan Sumber Daya Manusia (SDM) yang memiliki sertifikasi profesi khusus. Tanpa tenaga ahli yang kompeten, operasional fasilitas waste to energy berisiko tinggi mengalami kegagalan teknis atau bahkan mangkrak.
BACA JUGA:Donald Trump Ancam Respons Keras Jika Iran Hukum Gantung Pengunjuk Rasa
BACA JUGA:Skandal Investasi Kripto: Timothy Ronald Dilaporkan ke Polisi, Korban Rugi Miliaran Rupiah!
Kesiapan SDM menjadi fondasi utama agar fasilitas canggih tersebut dapat beroperasi secara berkelanjutan dan memberikan manfaat ekonomi maupun lingkungan yang nyata bagi masyarakat sekitar.
Di tengah upaya mengolah sampah rumah tangga, IATPI kini memberikan peringatan keras mengenai tantangan baru yang muncul dari tren kendaraan listrik (Electric Vehicle/EV). Pesatnya penggunaan EV di Indonesia menyisakan masalah serius berupa limbah baterai dan sampah elektronik.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: