Harga Minyak Dunia Melonjak, Pemerintah Didesak Percepat Pemanfaatan Bahan Bakar Nabati
Pemerintah Indonesia diminta mendorong pemanfaatan Bahan Bakar Nabati.--
radarpena.co.id - Situasi geopolitik global yang kian memanas serta ancaman kemarau panjang akibat fenomena El Nino mulai membayangi ketahanan energi nasional. Pemerintah kini menghadapi tantangan besar dalam memenuhi pasokan Bahan Bakar Minyak (BBM) di dalam negeri. Hal ini terjadi seiring penutupan aktivitas di Selat Hormuz, padahal Indonesia masih sangat bergantung pada impor minyak dari Timur Tengah sekitar 20-25 persen.
Kondisi ini memicu desakan agar pemerintah segera menggenjot pemanfaatan Bahan Bakar Nabati (BBN) sebagai solusi jangka panjang untuk mengurangi ketergantungan pada energi fosil dari luar negeri.
Ketahanan Energi Indonesia Hanya Bertahan 22 Hari
Guru Besar Fakultas Teknik UGM, Prof. Dr. Ir. Deendarlianto, S.T., memberikan peringatan serius mengenai kerentanan energi kita. Saat ini, Indonesia hanya mampu bertahan selama 20 hingga 22 hari jika tidak ada pasokan baru yang masuk.
Angka ini terasa mengkhawatirkan mengingat kebutuhan minyak nasional mencapai 1,5 juta barel per hari, sedangkan produksi lokal hanya mampu menyumbang 600 ribu barel per hari. Selisih yang besar inilah yang memaksa Indonesia terus melakukan impor besar-besaran.
“Jika dalam 22 hari tidak masuk pasokan baru akan berisiko besar bagi industrialisasi, transportasi, kelistrikan, hingga potensi gejolak sosial,” tegas Prof. Deendarlianto pada Kamis, 2 April 2026.
Kebijakan B50: Langkah Nyata Kurangi Impor Solar
Prof. Deendarlianto mengapresiasi langkah antisipasi pemerintah yang mulai beralih ke energi terbarukan. Salah satu terobosan penting adalah kebijakan B50, yaitu pencampuran Bahan Bakar Nabati jenis biodiesel ke dalam solar. Aturan ini dijadwalkan mulai berlaku efektif pada 1 Juli 2026 mendatang.
Selain biodiesel, ia juga mendorong diversifikasi energi lainnya, seperti:
-
Etanol: Memanfaatkan sumber hayati seperti sorgum dan ketela sebagai pengganti bensin.
-
Dimethyl Ether (DME): Dikembangkan sebagai alternatif pengganti Liquefied Petroleum Gas (LPG).
-
Energi Mikroalga & Surya: Solusi pengganti solar untuk sektor pertanian dan kelistrikan.
Menurutnya, gangguan rantai pasok global saat ini seharusnya menjadi momentum bagi kebangkitan riset energi di perguruan tinggi.
Tantangan El Nino dan Evaluasi Kebijakan WFH
Memasuki semester kedua tahun 2026, BMKG memprediksi kemunculan El Nino yang dapat mengganggu operasional Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA). Sektor pertanian juga akan terdampak karena membutuhkan lebih banyak solar untuk menggerakkan pompa air di musim kering.
Terkait usulan kebijakan Work From Home (WFH) untuk menghemat energi, Prof. Deendarlianto menyarankan agar pemerintah melakukan kajian yang lebih mendalam.
“Saya pikir itu ide yang baik, namun perlu dilakukan pengkajian yang lebih dalam lagi dan tidak untuk dijadikan generalisasi,” ucapnya. Menurutnya, bidang sains dan teknologi tetap membutuhkan interaksi fisik yang tidak bisa sepenuhnya digantikan secara digital.
Mendorong Industri Energi Dalam Negeri
Sebagai penutup, ia menekankan pentingnya pengawalan Rencana Umum Energi Nasional (RUEN). Pemerintah harus memastikan kebijakan energi nasional tidak justru mendorong impor, melainkan menumbuhkan industri dalam negeri.
“Kalau industrinya tumbuh dan berasal dari dalam negeri, akan membuat ekonomi negara berputar lebih cepat. Namun, jangan sampai memiliki kebijakan energi nasional tetapi tetap mendorong impor,” tambahnya.
Dengan industri energi yang kuat—baik fosil maupun terbarukan—Indonesia diharapkan mampu menghadapi gejolak harga minyak dunia dengan lebih tangguh dan mandiri.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: ugm