AS Blokade Total Pelabuhan Iran! Ketegangan di Selat Hormuz Picu Kenaikan Harga Minyak

AS Blokade Total Pelabuhan Iran! Ketegangan di Selat Hormuz Picu Kenaikan Harga Minyak

Militer AS resmi blokade pelabuhan Iran mulai Senin ini setelah negosiasi di Pakistan gagal.--

radarpena.co.id - Militer Amerika Serikat (AS) mengambil langkah drastis dengan memulai blokade terhadap seluruh pelabuhan Iran pada Senin, 13 April 2026. Keputusan besar ini muncul setelah pembicaraan damai yang berlangsung di Pakistan berakhir tanpa kesepakatan.

Presiden Donald Trump menunjuk penolakan Republik Islam Iran untuk menghentikan ambisi nuklirnya sebagai penyebab utama kebuntuan diplomasi tersebut.

Melalui platform media sosial Truth Social, Trump mengonfirmasi perintah blokade pada jalur perdagangan strategis di Selat Hormuz.

Langkah ini ia ambil sesaat setelah Wakil Presiden JD Vance meninggalkan meja negosiasi dengan delegasi Iran di Islamabad pada hari Minggu kemarin.

Gagalnya Negosiasi di Pakistan dan Dampak Global

Kegagalan dialog tersebut seketika menghancurkan harapan dunia akan berakhirnya perang yang telah menelan ribuan korban jiwa. Sejak konflik pecah pada akhir Februari lalu, ekonomi global terus berada dalam ketidakpastian.

Meskipun tim negosiasi telah meninggalkan lokasi, mediator dari Pakistan menyatakan akan tetap berupaya memfasilitasi dialog di masa depan.

Pakistan juga mendesak kedua pihak untuk menghormati gencatan senjata dua minggu yang baru saja disepakati pekan lalu. Namun, para pakar memperingatkan bahwa blokade maritim oleh militer AS ini berisiko tinggi merusak kesepakatan damai yang masih sangat rapuh tersebut.

Detail Operasi Militer AS di Wilayah Pesisir Iran

Komando Pusat AS (CENTCOM) menegaskan bahwa aturan blokade ini berlaku secara adil bagi kapal dari negara mana pun yang mencoba masuk atau keluar dari wilayah pesisir Iran. Wilayah yang terdampak mencakup seluruh pelabuhan di Teluk Arab dan Teluk Oman.

"Blokade akan dimulai tepat pada pukul 14.00 GMT (22.00 WIB) hari Senin. Namun, pasukan AS tidak akan menghalangi kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz menuju atau dari pelabuhan selain milik Iran," tulis pernyataan resmi Komando Pusat AS.

Menariknya, operasi ini sedikit lebih terbatas daripada ancaman awal Trump yang ingin menutup total seluruh akses selat. Trump menyatakan bahwa fokus utamanya saat ini adalah membersihkan Selat Hormuz dari ranjau laut agar pelayaran internasional kembali aman, tanpa kontrol penuh dari pihak Iran.

Reaksi Keras Iran dan Lonjakan Harga Minyak Dunia

Pihak Teheran merespons ancaman tersebut dengan nada tinggi. Garda Revolusi Iran sebelumnya memperingatkan bahwa mereka memegang kendali penuh atas lalu lintas di Hormuz. Mereka mengancam akan menjebak siapa pun yang menantang posisi mereka dalam "pusaran maut".

Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menegaskan bahwa negaranya tidak akan tunduk pada intimidasi Washington. Di sisi lain, Kepala Angkatan Laut Iran, Shahram Irani, menyebut ancaman blokade dari Trump sebagai sesuatu yang "konyol".

Dampak ekonomi dari eskalasi ini langsung terasa di pasar energi:

  • Harga Minyak: Melonjak sekitar 8 persen pada hari Senin.

  • Kontrak WTI & Brent: Menembus angka di atas US$100 per barel.

  • Logistik: Dua kapal tanker minyak berbendera Pakistan dilaporkan telah berbalik arah untuk menghindari zona konflik.

Isu Nuklir Jadi Batu Sandungan Utama

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyalahkan sikap Amerika yang terus mengubah target negosiasi. Padahal menurutnya, kesepakatan damai sudah sangat dekat untuk tercapai.

Sebaliknya, delegasi AS yang melibatkan Jared Kushner dan Steve Witkoff merasa frustrasi karena Iran bersikeras mempertahankan hak program nuklirnya.

Donald Trump tetap pada pendirian kerasnya mengenai isu ini. Ia kembali menegaskan melalui unggahannya bahwa Iran tidak akan pernah ia izinkan memiliki senjata nuklir. "Setiap warga Iran yang menembak ke arah kita, atau ke arah kapal-kapal damai, akan dihancurkan!" tegas Trump.

Situasi di Selat Hormuz kini menjadi titik didih yang sangat krusial bagi keamanan internasional dan stabilitas ekonomi dunia dalam beberapa hari ke depan.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber:

Berita Terkait