Waspada El Nino 2026: BMKG Prediksi Kemarau Panjang, Waspadai Bahaya Karhutla!

Waspada El Nino 2026: BMKG Prediksi Kemarau Panjang, Waspadai Bahaya Karhutla!

Waspada El Nino 2026! BMKG prediksi kemarau panjang pemicu Karhutla.--

radarpena.co.id - Pemerintah kini harus kembali memperketat kesiapsiagaan menghadapi ancaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla). Berdasarkan prediksi terbaru dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), fenomena El Nino pada 2026 akan membuat musim kemarau tahun ini terasa lebih gersang dan berlangsung lebih lama dari biasanya.

Data hingga akhir Maret 2026 menunjukkan sekitar 7% Zona Musim (ZOM) di Indonesia sudah mulai memasuki masa kekeringan. Angka ini diprediksi akan terus merangkak naik dalam beberapa bulan ke depan.

Mengapa El Nino Meningkatkan Risiko Kebakaran?

Fenomena iklim global ini memang punya hubungan erat dengan meningkatnya titik api. Dosen Fakultas Kehutanan UGM, Fiqri Ardiansyah, S.Hut., M.Sc., menjelaskan bahwa El Nino membuat vegetasi hutan menjadi sangat kering sehingga mudah tersulut api.

Namun, ia menekankan bahwa cuaca ekstrem bukan satu-satunya biang keladi. Faktor manusia dalam mengelola lahan justru memegang peran kunci.

“Jadi, kaitannya bukan kemudian dengan pengelolaan lahan, tetapi dengan adanya penggunaan api yang sembarangan dalam mengelola lahan,” ujar Fiqri, Rabu, 6 Mei 2026, dikutip dari website UGM.

Bahaya Praktik Slash and Burn Tanpa Pengendalian

Banyak oknum masyarakat masih memilih cara instan untuk membuka lahan dengan metode bakar (slash and burn). Meski tergolong cepat dan murah, cara ini sangat berisiko tinggi jika tidak disertai pengamanan yang ketat.

Fiqri menyoroti kegagalan masyarakat dalam mengisolasi area pembakaran.

“Yang kemudian tidak diperhatikan umumnya oleh masyarakat itu tidak membuat sekat bakar atau tidak mengisolasi bahan bakar di area tersebut, jadi apinya malah menyebar ke mana-mana,” jelasnya.

Masalah ini bukan sekadar teknis, melainkan menyangkut tata kelola kehutanan. Kurangnya sinergi antara pemegang kebijakan, perusahaan, dan warga yang tinggal di pinggir hutan membuat risiko Karhutla sulit ditekan.

Belajar dari Tragedi Karhutla 2015

Jika pola pengelolaan lahan tidak segera berubah, Indonesia terancam menghadapi bencana kabut asap hebat seperti tahun 2015 silam. Risiko ini jauh lebih mengerikan pada area lahan gambut yang bisa terbakar hingga ke lapisan bawah tanah.

Dampaknya tentu tidak main-main. Fiqri memperingatkan bahwa kebakaran besar akan memicu:

  • Kerusakan hutan dan deforestasi tinggi.

  • Kabut asap berkepanjangan.

  • Gangguan aktivitas ekonomi dan sosial.

  • Lumpuhnya jadwal penerbangan.

  • Ancaman serius bagi kesehatan masyarakat.

Solusi dan Langkah Pencegahan Pemerintah

Kabar baiknya, pemerintah mulai bergeser ke arah pencegahan melalui early warning system (sistem peringatan dini). Prediksi BMKG kini menjadi acuan utama untuk bertindak sebelum api berkobar, bukan sekadar memadamkan saat bencana sudah terjadi.

Fiqri menyarankan beberapa langkah konkret agar Indonesia terhindar dari krisis Karhutla:

  1. Batasi Penggunaan Api: Mendorong petani dan perusahaan menggunakan metode pembukaan lahan tanpa bakar (PLTB).

  2. Patroli Rutin: Memperketat pengawasan di area rawan dan ekosistem gambut.

  3. Sinergi Kolaborasi: Membangun kerjasama antara pengelola kawasan dan masyarakat sekitar.

  4. Edukasi Massal: Memberikan pemahaman kepada warga mengenai bahaya dan cara isolasi api.

“Di tengah peningkatan potensi El Nino, penguatan tata kelola kehutanan berbasis kolaborasi dan pencegahan menjadi kunci utama untuk menekan risiko Karhutla di Indonesia,” pungkas Fiqri.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber:

Berita Terkait