Trump Tolak Perpanjang Gencatan Senjata dengan Iran, Militer AS Siap Bergerak
Donald Trump menolak perpanjangan gencatan senjata dengan Iran dan siapkan aksi militer.--
radarpena.co.id - Dunia kini berada di ambang ketidakpastian besar setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, secara terang-terangan menolak perpanjangan gencatan senjata dengan Iran.
Masa jeda perang yang akan segera berakhir ini tampaknya tidak akan berlanjut, mengingat Trump mengisyaratkan bahwa militer AS sudah "siap untuk bertindak" jika jalur diplomasi menemui jalan buntu.
Pernyataan keras ini muncul di tengah situasi maritim yang memanas. Tak lama sebelum pengumuman tersebut, militer AS mengonfirmasi telah menaiki sebuah kapal tanker minyak besar milik Iran di perairan internasional.
Langkah agresif ini merupakan tindakan perdana AS terhadap ekspor minyak mentah Teheran, yang berpotensi membuyarkan harapan untuk menghidupkan kembali pembicaraan damai di Pakistan.
"Saya tidak ingin melakukan itu. Kita tidak punya banyak waktu," tegas Trump saat menjawab pertanyaan CNBC mengenai kemungkinan memperpanjang gencatan senjata, Selasa, 21 April 2026.
Ancaman Pengeboman dan Kesiapan militer AS
Trump tidak ragu mengungkapkan preferensinya dalam menangani konflik ini. Ia menilai bahwa aksi militer langsung mungkin menjadi jalan yang lebih efektif bagi posisi Amerika saat ini.
“Saya memperkirakan akan melakukan pengeboman karena saya pikir itu adalah sikap yang lebih baik untuk menghadapi situasi ini,” tambahnya. “Tapi kami siap. Maksud saya, militer sangat bersemangat untuk bertindak.”
Di sisi lain, Teheran memberikan peringatan yang tidak kalah sengit. Juru bicara pemerintah Iran, Fatemeh Mohajerani, menyatakan melalui kantor berita IRNA bahwa pihaknya tidak menginginkan adanya serangan baru. Namun, jika Washington memulai agresi, Iran akan merespons jauh lebih tegas daripada sebelumnya.
AS Sita Kapal Tanker 'Tifani' Bermuatan 2 Juta Barel Minyak
Ketegangan di laut mencapai puncaknya ketika pasukan AS menaiki kapal tanker Tifani. Berdasarkan data pelacakan MarineTraffic, kapal yang memuat sekitar 2 juta barel minyak mentah ini terakhir terlihat di dekat Sri Lanka dengan tujuan Singapura.
Komando Pusat AS (CENTCOM) menyatakan bahwa tindakan ini adalah bagian dari upaya penegakan hukum maritim global untuk memutus jaringan ilegal pendukung Iran.
Melalui media sosial, Trump juga menuding Iran telah melakukan banyak pelanggaran gencatan senjata, meskipun ia tidak memberikan detail spesifik mengenai tuduhan tersebut.
Ia merasa blokade yang diterapkan AS sudah berhasil menekan Teheran, sehingga AS berada dalam posisi tawar yang kuat untuk mencapai "kesepakatan yang hebat."
Dampak Penutupan Selat Hormuz Terhadap Ekonomi Global
Konflik ini telah menyebabkan guncangan ekonomi yang sangat hebat. Iran saat ini masih memblokir Selat Hormuz untuk hampir semua kapal kecuali miliknya sendiri. Akibatnya, pasokan dunia kehilangan sekitar 20 juta barel minyak setiap harinya.
Penutupan jalur strategis ini terjadi setelah Trump menolak mencabut blokade pelabuhan Iran, yang langsung dibalas Teheran dengan membatalkan pembukaan selat tersebut pada hari Sabtu lalu.
Dampak perang ini tidak hanya dirasakan di medan tempur. Prancis melaporkan bahwa lonjakan harga energi dan imbal hasil obligasi akibat konflik ini merugikan pemerintah mereka sebesar 4 miliar hingga 6 miliar euro.
Hal ini memaksa mereka untuk menunda pengeluaran negara dalam jumlah yang sama demi menyeimbangkan anggaran.
Harapan Tipis di Meja Perundingan Islamabad
Meskipun situasi sangat genting, sumber-sumber dari Pakistan mengabarkan bahwa masih ada momentum kecil untuk melanjutkan pembicaraan. Wakil Presiden AS, JD Vance, dikabarkan akan tiba di Islamabad untuk mencoba mencari titik temu.
Namun, Teheran tetap pada pendiriannya: mereka menuntut pengakuan atas hak memperkaya uranium dan pencabutan blokade pelabuhan sebelum kembali ke meja perundingan.
gencatan senjata dua minggu ini dijadwalkan berakhir pada pukul 8 malam Waktu Bagian Timur pada hari Rabu, atau sekitar pukul 3:30 pagi hari Kamis waktu Iran.
Tanpa adanya kesepakatan di menit-menit terakhir, risiko dimulainya kembali serangan terhadap infrastruktur sipil Iran dan eskalasi perang di kawasan tetap menjadi ancaman nyata bagi stabilitas dunia.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: