Sekutu NATO Tolak Blokade Selat Hormuz Trump: Fokus pada Diplomasi, Bukan Perang!

Sekutu NATO Tolak Blokade Selat Hormuz Trump: Fokus pada Diplomasi, Bukan Perang!

Sekutu NATO tolak rencana blokade Selat Hormuz Donald Trump untuk hindari perang dengan Iran.--

 

radarpena.co.id - Rencana besar Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, untuk menutup total akses maritim di Selat Hormuz mendapat hadangan keras dari rekan sejawatnya. Pada Senin, 13 April 2026, para sekutu NATO secara tegas menyatakan tidak akan bergabung dalam misi blokade tersebut.

Langkah ini diprediksi akan menyulut kemarahan Trump dan memperlebar keretakan dalam aliansi militer lintas atlantik tersebut.

Para pemimpin Eropa justru menawarkan opsi intervensi hanya setelah konflik bersenjata berakhir, sebuah posisi yang bertolak belakang dengan strategi agresif Washington.

Trump Perintahkan Blokade Maritim terhadap Iran

Donald Trump sebelumnya menegaskan bahwa militer AS akan menggandeng negara-negara lain untuk menghentikan seluruh lalu lintas maritim di jalur vital tersebut. Keputusan ini muncul setelah perundingan akhir pekan gagal membuahkan kesepakatan untuk menghentikan konflik yang telah berlangsung selama enam minggu dengan Iran.

Pihak militer AS memberikan rincian bahwa blokade yang dijadwalkan mulai pukul 22.00 waktu Singapura ini menyasar kapal-kapal yang menuju atau berasal dari pelabuhan Iran. Sejak pecah perang pada 28 Februari, Iran memang telah menutup akses selat bagi kapal asing demi memperkuat kendali permanen dan rencana penarikan pungutan.

"Blokade akan segera dimulai. Negara-negara lain akan terlibat dalam blokade ini," tulis Trump melalui unggahan di akun Truth Social miliknya.

Inggris dan Prancis Ogah Terseret Konflik

Meski ada tekanan dari Gedung Putih, negara-negara kunci seperti Inggris dan Prancis memilih menjaga jarak. Mereka khawatir keikutsertaan dalam blokade akan menyeret Eropa ke dalam lubang peperangan yang lebih dalam.

Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer, menegaskan posisi negaranya dalam wawancara bersama BBC.

"Kami tidak mendukung blokade. Keputusan saya sangat jelas bahwa apa pun tekanannya, dan ada beberapa tekanan yang cukup besar, kami tidak akan terseret ke dalam perang," ujar Starmer.

Senada dengan Inggris, Presiden Prancis Emmanuel Macron justru mengusulkan pembentukan misi multinasional yang bersifat defensif. Prancis berencana menggelar konferensi untuk membahas pemulihan navigasi di selat yang menjadi jalur bagi seperlima pasokan minyak dunia tersebut.

"Misi yang sepenuhnya defensif ini, yang berbeda dari pihak-pihak yang bertikai, akan dikerahkan segera setelah situasi memungkinkan," kata Macron.

Ketegangan Internal NATO Meningkat

Penolakan ini menjadi titik gesekan baru bagi internal NATO. Trump sebelumnya sempat mengancam akan keluar dari aliansi dan mempertimbangkan penarikan pasukan AS dari Eropa. Kemarahan Trump ini dipicu oleh kebijakan beberapa negara Eropa yang melarang penggunaan wilayah udara mereka untuk serangan udara ke Iran.

Sekretaris Jenderal NATO, Mark Rutte, sebenarnya telah meminta komitmen konkret dari anggota NATO untuk mengamankan Selat Hormuz. Namun, kesepakatan sulit tercapai karena mayoritas dari 32 negara anggota menginginkan penyelesaian damai terlebih dahulu sebelum mengerahkan kekuatan.

Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Turki, Hakan Fidan, menekankan pentingnya jalur diplomasi. Ia menilai pembentukan pasukan internasional di wilayah tersebut akan sangat rumit dan mendesak NATO untuk segera memperbaiki hubungan dengan Trump pada pertemuan puncak di Ankara bulan Juli mendatang.

 

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber:

Berita Terkait