Jelang Pembicaraan AS-Iran di Pakistan, Trump Mengaku Tak Butuh Rencana Cadangan
Presiden Donald Trump umumkan perpanjangan gencatan senjata Israel-Hezbollah selama 3 minggu.--
radarpena.co.id - Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menunjukkan sikap sangat optimis menjelang pertemuan diplomatik tingkat tinggi dengan Iran di Islamabad, Pakistan. Ia secara tegas menepis kekhawatiran publik mengenai kemungkinan kegagalan negosiasi yang bertujuan mengakhiri perang di kawasan tersebut.
Saat bersiap berangkat menuju Charlottesville, Virginia, Trump menyampaikan pesan kuat kepada awak media. Ia merasa posisi tawar Amerika Serikat saat ini berada di atas angin karena kondisi kekuatan militer lawan yang menurutnya sudah sangat melemah.
"Anda tidak perlu rencana cadangan. Militer mereka telah dikalahkan. Militer mereka telah lenyap. Kita telah melemahkan hampir semuanya. Mereka memiliki sangat sedikit rudal. Mereka memiliki kemampuan manufaktur yang sangat terbatas. Kita telah menghantam mereka dengan keras," tegas Trump mengenai kondisi pertahanan Iran.
Nasib Selat Hormuz: Terbuka Secara Otomatis?
Salah satu poin paling krusial dalam ketegangan ini adalah akses ke jalur maritim global yang vital. Trump mengirimkan sinyal peringatan bahwa Amerika Serikat akan memastikan Selat Hormuz kembali berfungsi untuk lalu lintas internasional, terlepas dari hasil meja perundingan nantinya.
Meskipun ia mendoakan Wakil Presiden JD Vance sukses memimpin delegasi AS pada hari Sabtu, Trump menegaskan bahwa pembukaan jalur air tersebut tidak bisa diganggu gugat. Ia menyatakan bahwa wilayah Teluk akan terbuka "dengan atau tanpa" persetujuan dari pihak Teheran.
"Sekarang kita akan membuka Teluk, dengan atau tanpa mereka, tetapi itu akan terbuka, atau selat, seperti yang mereka sebut. Dan saya pikir itu akan berjalan cukup cepat. Dan jika tidak, kita akan dapat menyelesaikannya dengan satu atau lain cara. Semuanya berjalan dengan baik," tambahnya.
Lebih lanjut, Presiden ke-47 AS ini menekankan bahwa Gedung Putih tidak akan membiarkan adanya pungutan biaya tol bagi kapal-kapal yang melintasi jalur strategis tersebut. Trump mengklaim proses pembukaan selat akan terjadi secara otomatis dan menyebut adanya dukungan dari negara-negara lain, meski ia tidak merinci daftar negara yang dimaksud.
Prioritas Utama: Menghapus Ancaman Nuklir
Ketika wartawan bertanya mengenai standar kesepakatan yang ideal bagi pemerintahannya, Trump memberikan jawaban singkat dan padat. Baginya, isu persenjataan atom menjadi harga mati dalam setiap draf perdamaian.
"Tidak ada senjata nuklir, nomor satu," ujar Trump secara lugas.
Ia juga menyentuh isu sensitif mengenai kepemimpinan di Iran. "Saya pikir itu sudah termasuk perubahan rezim, tetapi kita tidak pernah menjadikan itu sebagai kriteria. Tidak ada senjata nuklir, itu 99% dari itu," lanjutnya.
Pakistan dan Diplomasi Global di Balik Gencatan Senjata
Kehadiran delegasi kedua negara di Islamabad merupakan hasil dari kerja keras diplomasi internasional. Pakistan bersama sekutu global lainnya seperti Turki, Tiongkok, Arab Saudi, dan Mesir, berhasil mengamankan Gencatan Senjata selama dua minggu antara Washington dan Teheran.
Kesepakatan ini menghentikan rangkaian serangan hebat yang berlangsung selama lebih dari satu bulan. Konflik terbuka ini sebelumnya pecah setelah AS dan Israel melancarkan serangan terhadap wilayah Iran pada 28 Februari lalu.
Sebagai tindak lanjut dari Gencatan Senjata sementara ini, kedua belah pihak sepakat bertemu di Pakistan untuk merumuskan fondasi perdamaian yang lebih permanen. Namun, Trump sendiri mengaku belum bisa memastikan apakah pertemuan di Islamabad ini akan menjadi peluang terakhir bagi kedua negara.
"Saya tidak tahu, saya tidak bisa memberi tahu Anda. Saya harus melihat apa yang terjadi besok," tutupnya.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: