Harga Tiket Pesawat Haji 2026 Terancam Naik, Garuda & Saudia Ajukan Tambahan Jutaan Rupiah!
Pesawat pengangkut jemaah haji--
radarpena.co.id - Kabar kurang sedap datang bagi calon jemaah haji Indonesia. Menteri Haji dan Umrah, Mochamad Irfan Yusuf, mengungkapkan adanya usulan kenaikan harga tiket penerbangan haji dari dua maskapai utama, Garuda Indonesia dan Saudia Airlines.
Kenaikan ini dipicu oleh fluktuasi harga avtur dunia yang sempat melonjak tajam dalam beberapa waktu terakhir.
Dalam konferensi pers yang digelar di Jakarta pada Rabu (15/4/2026), Menteri Irfan membeberkan angka penyesuaian tarif yang diajukan kedua maskapai:
BACA JUGA:Haji 2026 Diprediksi Super Panas! Suhu di Makkah Bisa Tembus 42°C, Ini Dampaknya untuk Jemaah
- Garuda Indonesia: Mengusulkan tambahan biaya sekitar Rp7 juta per jemaah.
- Saudia Airlines: Meminta tambahan sebesar 485 dolar AS (setara Rp8,29 juta dengan asumsi kurs Rp17.100) per jemaah.
"Garuda mengajukan tambahan sekitar Rp7 juta, sedangkan Saudia sekitar 485 dolar AS per jemaah," ujar Irfan Yusuf.
Jika pemerintah mengabulkan seluruh permintaan maskapai tersebut, total tambahan biaya penerbangan haji secara nasional diperkirakan mencapai angka fantastis, yakni Rp1,77 triliun.
Namun, masyarakat diminta tetap tenang. Angka ini masih bersifat estimasi maksimal dan belum menjadi keputusan final dari pemerintah.
BACA JUGA:Petugas Haji Berangkat ke Tanah Suci Mulai 17 April, Kloter Perdana Jemaah Terbang 22 April
Ada secercah harapan bagi para jemaah. Menteri Irfan menjelaskan bahwa usulan kenaikan tersebut diajukan saat harga avtur sedang berada di titik tertinggi. Mengingat saat ini harga minyak dunia mulai menunjukkan tren penurunan, pemerintah melihat adanya peluang besar untuk menekan angka tersebut.
"Mereka mengajukan saat harga avtur tinggi. Sekarang kondisinya sudah mulai turun, jadi masih sangat mungkin untuk dinegosiasikan kembali," jelasnya optimis.
Pemerintah menegaskan tidak akan gegabah menyetujui usulan maskapai. Saat ini, tim teknis sedang melakukan perhitungan ulang secara detail dengan mempertimbangkan:
- Kondisi harga energi terkini.
- Efisiensi operasional maskapai.
- Kemampuan finansial jemaah.
"Kami akan hitung kembali secara detail. Harapannya, biaya yang dibebankan ke jemaah bisa lebih ringan," pungkas Irfan.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: