Perang Iran vs AS-Israel Membara, Teheran Tegaskan: Perang Berhenti Hanya Jika Agresi Selesai!

Perang Iran vs AS-Israel Membara, Teheran Tegaskan: Perang Berhenti Hanya Jika Agresi Selesai!

Iran tegaskan perang dengan AS-Israel berakhir jika agresi berhenti - ANTARA - --

Radarpena.co.id - Ketegangan di Timur Tengah mencapai babak baru yang semakin mengkhawatirkan. Iran dengan tegas menyatakan bahwa pertempuran melawan Amerika Serikat (AS) dan Israel akan terus berlanjut sampai tindakan agresi yang mereka alami benar-benar berakhir. Pernyataan ini muncul setelah serangan besar-besaran yang mengguncang Teheran beberapa hari lalu.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, berbicara langsung di depan puing-puing sebuah sekolah dasar di Teheran yang menjadi sasaran serangan. Ia menegaskan bahwa Iran sebenarnya memilih jalan diplomasi, namun mereka merasa terpaksa untuk mempertahankan kedaulatan tanah airnya.

"Perang tersebut tidak dimulai oleh Iran, yang memilih diplomasi," tegas Baghaei di hadapan para wartawan pada Selasa (3/3/2026).

Dampak Serangan Mematikan: 800 Nyawa Melayang

Serangan besar-besaran yang diluncurkan oleh AS dan Israel pada Sabtu (28/2) lalu meninggalkan duka mendalam. Data dari otoritas Iran mencatat hampir 800 orang tewas akibat operasi militer tersebut. Angka ini mencakup sosok-sosok penting, termasuk Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, serta sejumlah pejabat tinggi militer negara tersebut.

Ironisnya, serangan ini terjadi hanya berselang beberapa hari setelah AS dan Iran menjalani putaran ketiga perundingan nuklir tidak langsung yang dimediasi oleh Oman. Banyak pihak di dalam Iran kini menentang keras upaya perundingan lanjutan. Mereka merasa trauma dengan rentetan serangan yang sebelumnya juga terjadi pada Juni 2025.

Iran Siap Bertempur dengan Kekuatan Penuh

Dalam situasi yang kian mencekam, Baghaei menegaskan bahwa perhatian utama Iran saat ini hanya satu: mempertahankan tanah air. Mereka telah bersumpah untuk mengerahkan seluruh kekuatan dalam pertempuran ini dan mengabaikan segala hal yang dianggap sebagai pengalih perhatian.

“Kami telah menerima banyak pesan yang saling bertentangan dan menyesatkan selama satu setengah tahun terakhir. Sekarang adalah waktu untuk berperang dan membela tanah air. Apa pun yang mengalihkan perhatian kami harus disingkirkan,” ucap Baghaei dengan nada geram.

Sebagai bentuk pembalasan, Iran tercatat telah meluncurkan 15 gelombang serangan rudal dan drone yang menargetkan Israel serta aset-aset AS di berbagai titik, seperti Bahrain, Qatar, Uni Emirat Arab, Yordania, Irak, Kuwait, hingga Arab Saudi. Banyak negara di kawasan tersebut pun mengecam keras tindakan balasan Iran tersebut.

Peringatan Keras Bagi Komunitas Internasional

Baghaei tidak ragu melayangkan kritik pedas kepada komunitas internasional dan Dewan Keamanan PBB yang dianggapnya pasif. Ia menuding dunia hanya menonton terjadinya agresi dan genosida tanpa mengambil tindakan konkret untuk menghentikan pelanggaran hukum internasional.

Ia memperingatkan bahwa sikap acuh tak acuh negara-negara besar, terutama yang selama ini mengklaim menjunjung tinggi supremasi hukum dan Piagam PBB, hanya akan memicu kekacauan yang lebih luas. Jika terus dibiarkan, menurutnya, api pelanggaran hukum ini bisa melanda negara-negara lain di masa depan.

“Kami telah berulang kali berseru dan memperingatkan bahwa jika dunia tidak bertindak, api pelanggaran hukum dan pemberontakan akan melanda semua negara,” ujarnya mengingatkan dunia akan ancaman domino dari konflik ini.

Saat ini, dunia sedang menahan napas menunggu langkah selanjutnya. Ketidakpastian mengenai masa depan Timur Tengah semakin gelap. Apakah jalur diplomasi akan terbuka kembali, ataukah perang ini akan terus menjalar ke berbagai negara tetangga? Untuk saat ini, Iran memastikan posisi mereka tetap sama: tidak ada perdamaian sebelum agresi musuh dihentikan sepenuhnya. (*)

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber:

Berita Terkait